CERITA RAKYAT SAMBAS: Asal Usul Muara Ulakan


misterpangalayo.com - Menurut Jan Vasian, tradisi lisan adalah kesaksian lisan yang disampaikan secara Verbal dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisi lisan diwariskan secara turun temurun, dan tidak hanya sebagai pengisi waktu tapi juga sebagai penyalur sikap dan pandangan, refleksi angan-angan kelompok. Juga sebagai wasiat bagi generasi selanjutnya dijadikan sebagai pedoman hidup. Sehingga komunikasi secara lisan akan menghasilkan sebuah tradisi yang cukup mengandalkan mulut dan telinga.

Di Kalimantan Barat itu banyak berkembang tradisi lisan khususnya pada wilayah-wilayah kerajaan Melayu. Salah satunya adalah tradisi lisan yang menceritakan bahwa nenek moyang orang Melayu dan orang Dayak itu adalah bersaudara atau secara genologis memiliki hubungan darah yang sama.

Di wilayah Kesultanan Sambas (sekarang wilayah Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang dan Kota Singkawang) berada di pusat pemerintahan Kabupaten Sambas sekarang terdapat sebuah cerita rakyat tentang Asal Usul Muara Ulakan yang tidak bisa terpisahkan dari 2 (dua) orang dari suku Dayak dan suku Melayu.

Berikut adalah cerita singkatnya, check this out !!!

Tradisi lisan tentang persaudaraan orang Dayak dan orang Melayu di Binua Sambas (Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang dan Kota Singkawang) bermula dari cerita legenda "Negeri Kebanaran" atau lebih dikenal dengan Kerajaan Batu Bajamban di Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas. Alkisah, ada 2 (dua) orang sahabat yang bernama Syamsudin (laki-laki) dan Saribas (laki-laki). Syamsudin dan Saribas adalah manusia biasa yang menikah dengan "Urakng Kebanaran".

Syamsudin yang notebane-nya dari suku Melayu, orang yang pertama kali menikah dengan Urakng Kebanaran (orang limun/makhluk halus). Dan orang kedua yang menikah dengan Urakng Kebanaran adalah Saribas (pemuda dari Suku Dayak). Karena sesama manusia, Syam (panggilan akrab Syamsudin) dan Saribas bersahabat.

Melihat Syamsudin bertingkah demikian, istrinya tidak senang dan tidak mau menampakkan dirinya lagi kepada manusia. Akhirnya Syam terus mengikuti kemana pun Saribas pergi. Dimana ada Sam disitu ada Saribas. Namun ada juga versi cerita lain bahwa Syamsudin pasca menikah dengan Urakng Kebanaran akhirnya menghilang dan dipercayai Syam pindah dan ikut berdiam di Kerajaan Batu Bajamban.

Hingga suatu ketika, Syamsudin dan Saribas berada dalam suatu perjalanan setibanya di persimpangan 3 (sungai) yaitu Sungai Sambas Kecil, Sungai Subah, dan Sungan Teberau (sekarang tempat berdirinya Istana Kesultanan Sambas), mereka berikrar berjanji untuk selalu bersahabat selamanya, tidak saling menipu satu sama lain dan selalu sama rata dalam hal apapun, serta tidak boleh ada pertikaian antara suku Melayu (Urang Laut) dan Dayak (Urang Darat).

Ikrar persahabatan mereka tersebut ditandai dengan membuang sebuah batu yang mereka ambil dari Gunung Sebatok ke persimpangan 3 (tiga) sungai secara bersama-sama. Menurut cerita rakyat Sambas bahwa batu-batu Gunung Sebatok runtuh ke Sungai yang kalah diterjang Gunung Senujuh tempo dulu.

"Aku ingin tidak akan pernah ada pertikaian dan saling dendam antara kita, walaupun kita dari suku yang berbeda."kata Syamsudin.

"Seandainya batu itu timbul ke permukaan, barulah kami Orang Darat (Dayak) melawan Orang Laut (Melayu)."ujar Saribas sambil memeluk Syamsudin.

Seusai mereka berkata, tiba-tiba tempat mereka membuang batu tersebut membentuk pusaran air yang mereka namakan ulakan. Definisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia definisi dari Ulak adalah pusaran air. Namun secara harfiah, Ulak (dalam bahasa daerah Sambas) berarti bohong, jadi Ulakan yang dimaksud disini adalah mereka tidak menginginkan adanya kebohongan dan tidak saling menipu sesamanya. Sejak saat itulah Syamsudin dan Saribas menjadi sahabat sejati.

Muara Ulakan adalah sebuah lokasi persimpangan atau pertemuan 3 (tiga) sungai yaitu Sungai Sambas Kecil, Sungai Subah, dan Sungan Teberau yang dahulunya merupakan tempat berikrarnya orang Melayu dan orang Dayak (Syam dan Saribas). Hingga banyak orang yang mengkaitkan kejadian tersebut dengan asal usul nama Sambas, yang mana kata Sambas diambil dari Sam (Syamsudin) dan Bas (Saribas).

Dewasa ini, orang Dayak dan orang Melayu (Sambas) percaya bahwa mereka adalah satu kesatuan ibarat sepasang sepatu (Filosofi Sepasang Sepatu) yang tidak dapat dipisahkan. Seperti perumpamaan "Ibarat Aur dan Tebing" yang maknanya adalah akan selalu terikat dan saling membutuhkan satu sama lain.

Tradisi lisan tentang persahabatan orang Darat (Dayak) dan orang Laut (Melayu), hingga sekarang masih berlaku dalam pola interaksi sosial antara orang Melayu dengan orang Dayak. Masing-masing pihak menyadari adanya cultural boundary. Dalam perkampungan yang penduduknya dominan orang Dayak maka orang Melayu di tempat tersebut akan mematuhi adat istiadat dan hukum adat orang Dayak.

Tidak ada komentar:

Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya
+Email : raditmananta@gmail.com
+Twitter : @raditmananta

Tata Tertib Berkomentar di blog misterpangalayo:

1. Gunakan Gaya Tulisan yang Biasa-biasa Saja
2. Tidak Melakukan Komentar yang Sama Disetiap Postingan
3. Berkomentar Mengandung Unsur Sara Tidak di Anjurkan

Diberdayakan oleh Blogger.