[Update Kemendikbud] 9 Bahasa Daerah Yang dituturkan oleh Masyarakat Kalimantan Barat


misterpangalayo.com - Kalimantan merupakan pulau terbesar di Nusantara, pulau terbesar ketiga di dunia atau paling luas di Indonesia. Di kancah internasional, pulau ini lebih dikenal Borneo. Pulau Kalimantan terdiri dari tiga negara yakni Indonesia yang porsinya paling besar yaitu 73%, kemudian Malaysia (26%) dan juga Brunei Darussalam (1%). Pulau ini juga terkenal dengan julukan "Pulau Seribu Sungai" terbagi menjadi lima provinsi berdasarkan urutan pembentukannya:

  • Kalimantan Barat dengan ibu kota Pontianak 
  • Kalimantan Tengah dengan ibu kota Palangkaraya 
  • Kalimantan Selatan dengan ibu kota Banjarmasin 
  • Kalimantan Timur dengan ibu kota Samarinda 
  • Kalimantan Utara dengan ibu kota Tanjung Selor

Namun meskipun luas, pulau Kalimantan bukanlah pulau yang padat penduduknya. Kebanyakan wilayah pulau Kalimantan terdiri dari hutan hujan tropis. Keberadaan hutan hujan tropis di Kalimantan memang sangat penting karena sebagai paru- paru dunia, dimana hutan sebagai sumber daya alam yang sangat penting.

Jumlah penduduk di Kalimantan pada tahun ini diperkirakan mencapai 16,23 juta jiwa. Menurut Menurut Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015 jumlah tersebut terdiri atas 8,32 juta jiwa laki-laki dan 7,9 juta jiwa perempuan. Populasi di Pulau Kalimantan hanya sebesar 6% dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 267 juta jiwa.

Kalimantan Barat tercatat sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Pulau Borneo yakni 5.001.664 jiwa terdiri dari suku dan bangsa. Berdasarkan sensus tahun 2010, etnis paling dominan di Kalimantan Barat, yaitu Dayak (49.91%) termasuk suku Sambas yang berbudaya Melayu dan suku Melayu (16.50%).

Bahasa-bahasa di Kalimantan Barat merupakan bahasa Austronesia dari rumpun Malayic-Dayak. Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang secara umum dipakai oleh masyarakat di Kalimantan Barat. Selain itu bahasa penghubung, yaitu Bahasa Melayu Pontianak dan Bahasa Senganan (Sambas, Ngabang, Sintang, Sanggau, dan lain-lain) menurut wilayah penyebarannya. 

Peta Bahasa di Kalimantan Barat (2019)

Berdasarkan sumber dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia, bahasa daerah di Kalimanatan Barat dikelompokkan ke dalam 9 Bahasa yang masih dituturkan, yaitu :
  • Bakatik
Bahasa Bakatik dituturkan oleh masyarakat terutama di wilayah Kabupaten Bengkayang, yang tersebar di wilayah Kecamatan Ledo, Sanggau Ledo, Teriak, dan Bengkayang; Kecamatan Subah, Kabupaten Subah. Menurut pengakuan penutur, wilayah tutur bahasa Bakatik berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Melayu di sebelah utara, barat, dan selatan. Sementara itu, di sebelah timur laut berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Galik (Golik) dan Ribun (Rihun).

Selain di Kabupaten Bengkayang, bahasa Bakatik juga dituturkan di Kota Pontianak, Kabupaten Sambas, Landak, dan Kubu Raya yang ada di sekitar Kecamatan Ambawang serta di Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek yang dipakai di lima daerah tersebut diidentifikasi menjadi satu kelompok bahasa karena memiliki persentase perbedaan antara 48%—80%. Isolek di daerah pengamatan Kecamatan Bengkayang dan Kecamatan Ledo, Kabupaten Bengkayang termasuk dalam satu kelompok subdialek dengan persentase perbedaan 48%.

Bahasa Bakatik terbagi atas empat dialek, yaitu (1) dialek Moro Betung dengan daerah sebarannya di Kecamatan Menyuke, Kabupaten Landak; (2) dialek Ambawang Satu di Kabupaten Kubu Raya; (3) dialek Sahan di Kecamatan Sanggau Ledo, Kabupaten Bengkayang; (4) dialek Rodaya daerah sebarannya di Kecamatan Ledo dan Desa Bani Amas di Kabupaten Bengkayang. Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Bakatik merupakan bahasa tersendiri karena memiliki perbedaan di atas 81% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di Kalimantan Barat.

  • Bukat
Bahasa Bukat dituturkan oleh masyarakat yang mendiami wilayah di sekitar hulu Sungai Kapuas, terutama di wilayah Kecamatan Putussibau, Kabupaten Putussibau Utara dan Desa Tanjung Jati, Kecamatan Putussibau Selatan, Kabupaten Kapuas Hulu. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Bukat berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Punan dan Kayaan. Bahasa Bukat termasuk kelompok minoritas di Kalimantan Barat.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Bukat di Nanga Ubat jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di Kalimantan Barat, seperti bahasa Taman, Uud Danum (Ot Danum), Galik (Golik), Ribun (Rihun), Kayaan, Punan, dan Bakatik menunjukkan persentase perbedaan di atas 81% (beda bahasa). Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa bahasa Bukat merupakan sebuah bahasa tersendiri di Kalimantan Barat.

  • Galik
Bahasa Galik (Golik) dituturkan oleh masyarakat di Kampung Mandong, Kampung Tayan Hulu dan Kampung Engkahan, Kecamatan Sekayam; di Kampung Kasro Mego, Kecamatan Beduwai; dan Kampung Tanap, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat.

Wilayah tutur bahasa Galik (Golik) di bagian utara, selatan, dan timur berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Ribun (Rihun), dan bagian barat berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Bakatik. Bahasa Galik (Golik) merupakan gabungan dari beberapa bahasa daerah yang tersebar di Kecamatan Tayan Hulu, Beduwai, Sekayam, dan Kembayan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, bahasa Galik (Golik)terdiri atas empat dialek dengan persentase perbedaan 50—80%. Keempat dialek tersebut adalah (1) dialek Mandong yang dituturkan di Kampung Mandong, Kecamatan Tayan Hulu; (2) dialek Engkahan yang dituturkan di daerah Kecamatan Sekayam; (3) dialek Kasro Mego yang dituturkan di Desa Kasro Mego di Kecamatan Beduai; dan (4) dialek Tanap yang dituturkan di Desa Tanap, Kecamatan Kembayan.

Di Kampung Mandong, penutur menamakan bahasanya dengan bahasa Dayak Peruan; di Kampung Engkahan, Kecamatan Sekayam penuturnya menamakan bahasa Dayak Karamai; di Kampung Kasro Mego, Kecamatan Beduwai penuturnya menamakan bahasa Galik; di Kampung Tanap, Kecamatan Kembayan penuturnya menamakan bahasa Tanap.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan antara bahasa Galik (Golik) dengan bahasa-bahasa lain di Kalimantan Barat adalah di atas 81%. Ini menunjukkan bahwa isolek Galik (Golik) merupakan sebuah bahasa di Kalimantan Barat.

  • Kayaan
Bahasa Kayaan dituturkan di wilayah Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, di wilayah hulu Sungai Kapuas. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Kayaan di sebelah utara berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Bukat, di selatan dan barat berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Taman, dan di bagian timur berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Punan.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kayaan merupakan sebuah bahasa tersendiri.jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di Kalimantan Barat, seperti bahasa Taman, Uud Danum (Ot Danum), Galik (Golik), Ribun (Rihun), Bukat, Punan, dan Bakatik dengan persentase perbedaan di atas 81%.

  • Melayu (Senganan)
Bahasa Melayu merupakan bahasa yang terbanyak penuturnya di Kalimantan Barat. Ada sebagian masyarakat di Kalimantan Barat yang menyebutnya bahasa Melayik (rumpun bahasa Dayak Melayik) seperti bahasa Sambas dan Kanayatn. Penutur bahasa Melayu ini tersebar di seluruh wilayah kabupaten dan kota serta di kampung-kampung pedalaman di Kalimantan Barat.

Wilayah-wilayah tutur bahasa Melayu di sebelah utara berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Ribun (Rihun) dan Galik (Golik), di sebelah barat berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Bakatik, di sebelah selatan berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Melayu dan bahasa Uud Danum (Ot Danum), sedangkan di sebelah timur berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Taman.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, bahasa Melayu di Kalimantan Barat memiliki 15 dialek, yaitu Dialek Kapuas, Dialek Kantuk, Dialek Iban, Dialek Lunjuk, Dialek Ketungau (Sekadau), Dialek Ketungau (Ngabang), Dialek Kanayatn, Dialek Nangan Nuak, Dialek Taman (Sekadau), Dialek Tunjung, Dialek Laman Satong, Dialek Sokan, Dialek Natai Panjang, Dialek Kayong, dan Dialek Suruk.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Melayu jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di Kalimantan Barat, seperti bahasa Taman, Uud Danum (Ot Danum), Galik (Golik), Ribun (Rihun), Bukat, Punan, Kayaan, dan Bakatik menunjukkan persentase perbedaan sebesar 81%--100%. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa bahasa Melayu merupakan salah satu bahasa di Kalimantan Barat.

  • Punan
Bahasa Punan antara lain dituturkan oleh masyarakat di Desa Tanjunglokang, Kecamatan Putussibau Selatan, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Wilayah tutur bahasa Punan berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Bukat di bagian utara, dengan wilayah tutur bahasa Kayaan di sebelah barat, dan dengan wilayah tutur bahasa Uud Danum (Ot Danum) di sebelah selatan.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Punan yang dituturkan di daerah Tanjung Lokang jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di Kalimantan Barat, seperti bahasa Taman, Uud Danum (Ot Danum), Galik (Golik), Ribun (Rihun), Kayaan, Bukat, dan Bakatik menunjukkan persentase perbedaan di atas 81%. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahasa Punan merupakan sebuah bahasa yang ada di Kalimantan Barat.

  • Ribun
Bahasa Ribun (Rihun) dituturkan oleh masyarakat di Desa Tanggung dan Desa Semirau, Kecamatan Jangkang; di Desa Gunam, Kecamatan Parindu; di Desa Empodis dan Desa Upe, Kecamatan Bonti; dan di Desa Semongan, Kecamatan Noyan. Daerah-daerah tersebut berada di Kabupaten Sanggau.

Wilayah penutur bahasa Ribun (Rihun) di sebelah utara berbatasan dengan wilayah tutur penutur bahasa Galik (Golik), di sebelah selatan berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Melayu, di sebelah barat berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Melayu dan Bakatik, sedangkan di sebelah timur berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Melayu. Bahasa Ribun (Rihun) ini dituturkan oleh sejumlah etnik lokal yang menamakan diri mereka sebagai suku Ribun (Rihun), Jangkang, Bisomu, Muduk, Mayau, dan Tebuas.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, keenam isolek tersebut memperlihatkan persentase perbedaan antara 50—80%. Keenam isolek tersebut sebagai dialek dari bahasa Ribun (Rihun). Oleh karena itu, bahasa Ribun (Rihun) memiliki enam dialek, yaitu (1) dialek Tanggung dituturkan di bagian utara Kabupaten Sanggau, yaitu di Kecamatan Jangkang.

Dialek ini dikenal juga dengan sebutan dialek suku Jangkang. Penutur dialek ini juga tersebar di kecamatan lain yang juga mengidentifikasi diri sebagai suku Jangkang, seperti di Kecamatan Bonti dan Mukok; (2) dialek Empodis daerah sebarannya meliputi Kecamatan Bonti, Kabupaten Sanggau; (3) dialek Upe dituturkan di Kecamatan Bonti, bagian timur Kabupaten Sanggau; (4) dialek Semirau dituturkan di bagian utara Kabupaten Sanggau, tepatnya di Kecamatan Jangkang. Dialek ini dikenal juga dengan sebutan dialek suku Tebuas; (5) dialek Semongan dituturkan di Kecamatan Noyan, Kabupaten Sanggau; (6) dialek Gunam dituturkan di wilayah Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, bahasa Ribun (Rihun) memiliki perbedaan persentase sebesar 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya di Kalimantan Barat, misalnya dengan bahasa Taman, Dayak Kualan, Bukat, dan bahasa Galik (Golik). Dengan demikian,bahasa Ribun (Rihun) merupakan salah satu bahasa yang ada di Kalimantan Barat.

  • Taman
Bahasa Taman dituturkan oleh masyarakat di wilayah hulu Sungai Kapuas, antara lain di Engko’ Tambe, Kecamatan Putussibau Selatan; di Desa Pulau Manak, Kecamatan Embaloh Hulu; di Mensiau, Kecamatan Batang Lupar; di Nanga Tuwuk, Sungai Tempurau, Kecamatan Putussibau, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Barat. Wilayah tutur bahasa Taman dikelilingi oleh wilayah tutur bahasa Melayu. Bahasa Taman tersebar di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu, yaitu di wilayah Kecamatan Putussibau, Mandai, dan Batang Lupar.

Menurut pengakuan penutur, bahasa Taman tersebar di daerah Engko Tambe, Kecamatan Putussibau; di Pulau Manak, Kecamatan Embaloh Hulu penuturnya mengaku sebagai penutur bahasa Taman Embaloh; di Mensiau, Kecamatan Batang Lupar dituturkan bahasa Embaloh; di Nanga Tuwuk, Sungai Tempurau, Kecamatan Putussibau dituturkan bahasa Kalis.

Bahasa Taman mempunyai tiga dialek dengan persentase perbedaan sebesar 50%—80%. Dialek tersebut yaitu (1) dialek Taman Kapuas,yang memiliki daerah sebaran di Ingko’ Tambe, Kecamatan Putussibau; (2) dialek Taman Embaloh, yang memiliki daerah sebaran di Pulau Manak, Kecamatan Embaloh Hulu dan Mensiau, Kecamatan Batang Lupar; (3) dialek Kalis, yang memiliki daerah sebaran di Nanga Tuwuk, Sungai Tempurau, Kecamatan Putussibau.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, bahasa Taman merupakan sebuah bahasa jika dibandingkan dengan bahasa lain, yaitu dengan persentase perbedaan di atas 81%, misalnya bahasa Taman dengan bahasa Melayu, dengan bahasa Bakumpai, dan dengan bahasa Bukat.

  • Uud Danum
Bahasa Uud Danum (Ot Danum) dituturkan oleh masyarakat di Desa Nanga Keremoi, Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang, di daerah hulu Sungai Melawi, Provinsi Kalimantan Barat.

Wilayah tutur bahasa Uud Danum (Ot Danum) di sebelah utara dan barat berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Melayu. Penutur bahasa ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan orang-orang Uud Danum (Ot Danum) yang terdapat di kawasan Kalimantan Tengah, di wilayah Sungai Embaloh. Persentase perbedaan bahasa Uud Danum (Ot Danum) dengan bahasa-bahasa di sekitarnya berkisar 81%--100%. Misalnya dengan bahasa Dayak Baram, bahasa Dayak Kualan, bahasa Bakatik, dan dengan bahasa Taman.

Fungsi Peta Bahasa
Data yang digunakan untuk membuat peta bahasa berasal dari 2.560 daerah pengambilan data yang merupakan percontoh dari semua provinsi di seluruh Indonesia. Total bahasa daerah yang terpetakan hingga Oktober 2019  berjumlah 718 bahasa.

No comments:

Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya
+Email : raditmananta@gmail.com
+Twitter : @raditmananta

Tata Tertib Berkomentar di blog misterpangalayo:

1. Gunakan Gaya Tulisan yang Biasa-biasa Saja
2. Tidak Melakukan Komentar yang Sama Disetiap Postingan
3. Berkomentar Mengandung Unsur Sara Tidak di Anjurkan

Powered by Blogger.