Translate

Riam Kuweg Bengkayang, Perjalanan Mistis Camping di Rimba Kalimantan

misterpangalayo.com - Sebuah perjalanan terkadang tidak hanya membawa tubuh melintasi jarak dan waktu, tetapi juga membawa jiwa menyusuri batas antara logika dan rasa, antara yang terlihat dan yang tak kasat mata.

Malam Rabu itu, tanpa pertanda apa pun, ponsel saya berdering. Di ujung sana, sahabat lama dari Mempawah mengajak saya bergabung dalam sebuah perjalanan dadakan. “Gas ke Riam Kuweg?” katanya singkat, seolah tahu bahwa nama itu akan langsung mengetuk rasa penasaran saya. Riam Kuweg, sebuah nama yang sudah lama bergaung di kalangan pencinta alam Kalimantan Barat. Sebuah hidden gem, kawasan konservasi, riam berair deras yang berada di lingkaran Gunung Berapi Purba yang telah lama tertidur.

Padahal, rencana awal akhir pekan kami adalah camping santai di Bukit Bakmunt, Kabupaten Sanggau. Entah pertimbangan apa, entah bisikan siapa, arah perjalanan itu berubah total. Dari bukit terbuka menjadi rimba belantara. Dari rencana sederhana menjadi perjalanan yang kelak meninggalkan kesan mistis yang sulit dilupakan.

Dari Pontianak ke Mempawah: Awal Sebuah Takdir Perjalanan

Jumat malam, saya berangkat sendiri dari Pontianak menuju Kota Mempawah dengan mobil pribadi saya. Jalanan malam itu terasa lengang, ditemani cahaya lampu jalan dan suara mesin yang monoton. Sekitar satu setengah jam kemudian, saya tiba di rumah sahabat saya yang berada tepat di tepian Sungai Mempawah. Air sungai mengalir tenang, seolah menyambut perjalanan yang akan jauh lebih liar keesokan harinya.

Malam itu kami habiskan dengan diskusi ringan tentang Riam Kuweg, tentang cerita-cerita orang yang pernah ke sana, dan tentang alasan mengapa tempat itu seperti memanggil kami. Ada rasa antusias, tapi juga samar-samar rasa asing yang sulit dijelaskan.

Sabtu pagi, secangkir kopi dan kue sederhana menjadi pembuka hari. Setelah satu jam bersantai, kami memutuskan untuk segera berangkat. Mobil saya ditinggal di rumah, dan perjalanan dilanjutkan dengan sepeda motornya, pilihan yang terasa lebih menyatu dengan alam, meski jelas lebih menantang.

Jalan Panjang Menuju Bengkayang dan Sanggau Ledo

Perjalanan dari Mempawah menuju Kota Bengkayang memakan jarak sekitar 120–130 kilometer, melewati Pasar Anjungan yang menjadi simpang utama. Jalanan berliku, tanjakan dan turunan khas Kalimantan Barat, membuat kami harus ekstra waspada. Dengan kecepatan rata-rata 40–60 km/jam, perjalanan itu memakan waktu sekitar 2,5 hingga 3,5 jam.

Saat tiba di Kota Bengkayang, rasa lelah sedikit terobati. Kota ini menjadi titik transit kami, tempat untuk sholat, makan siang, dan mengistirahatkan badan sebelum melanjutkan perjalanan. Satu jam kemudian, kami kembali melaju menuju Kota Sanggau Ledo.

Rute Bengkayang – Sanggau Ledo relatif ramah, berjarak sekitar 25–30 kilometer, dengan kondisi jalan yang sebagian besar beraspal. Namun, tikungan dan tanjakan tetap menuntut kehati-hatian. Sekitar satu jam kemudian, kami tiba di Pasar Kota Sanggau Ledo, sebuah simpang empat yang menjadi titik pertemuan banyak perjalanan menuju utara Bengkayang, termasuk Jagoi Babang di perbatasan Indonesia–Malaysia.

Di sebuah rumah makan sederhana, kami berhenti. Di sinilah saya berkenalan dengan teman-teman baru dari Sambas dan Singkawang. Tawa, cerita, dan rasa kebersamaan mulai terbangun. Kami belum tahu, kebersamaan ini akan diuji oleh rimba dan malam yang sunyi.

Memasuki Wilayah Hutan: Lumpur, Keringat, dan Doa

Dua jam kemudian, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Simpang Kampung Sujah, Desa Sahan, Kecamatan Seluas. Di sinilah peradaban perlahan tertinggal. Kami berbelanja logistik di warung warga, mengisi bahan bakar, lalu melaju menuju Kampung Rambai.

Aspal berakhir di Pasar Sanggau Ledo. Setelah itu, jalan berubah menjadi tanah keras, kerikil, tanjakan dan turunan curam. Hujan sebelumnya membuat jalur semakin rusak. Dua jam perjalanan di jalur ini membuat kami berlumpur, lelah, dan mulai diam lebih fokus bertahan daripada berbincang.


Akhirnya, kami tiba di kampung terakhir. Sebuah perkampungan tradisional dengan rumah-rumah papan dan mendapati Rumah Adat Dayak Bidayuh bernama Rumah Balok yang berdiri unik, berbeda dari rumah panjang pada umumnya. Kami beristirahat sejenak, lalu melapor kepada kepala kampung. Sebagai tamu, kami membayar kontribusi dan meminta guide untuk membawa kami bermalam ke Riam Kuweg.

Oh iya, kami berjumlah kami sekitar 40 orang rata berasal dari dari Sambas dan Singkawang. Hanya saya sendiri dari Pontianak dan teman saya dari Mempawah. Hari mulai senja ketika kami melangkah meninggalkan kampung.

Empat Jam Menyusuri Rimba Kalimantan

Perjalanan kaki dimulai. Melewati kebun warga, lalu perlahan masuk ke hutan belantara. Langit semakin gelap, suara serangga mulai mendominasi. Empat jam perjalanan dengan medan naik-turun khas pegunungan membuat kaki terasa berat, namun semangat tetap menyala.

Sekitar satu jam sebelum tiba di lokasi, hujan turun deras. Jas hujan menjadi penyelamat. Di tengah rimba Kalimantan Barat yang megah, Riam Kuweg menunggu kami, sebuah surga tersembunyi di hamparan Pegunungan Niut.

Deburan air mulai terdengar dari kejauhan. Semakin dekat, semakin menggema. Saat akhirnya tiba sekitar pukul 7 malam, embusan angin dingin dan embun menyambut kami. Airnya bening, deras, mengalir di antara bebatuan besar. Alam di sini terasa suci seolah belum tersentuh keserakahan manusia.

Malam yang Sunyi dan Sosok Tak Diundang

Kami mendirikan tenda di area landai, meski tanah becek. Bagi anak alam, itu bukan masalah. Yang penting tenda berdiri.

Malam itu sunyi. Tak banyak aktivitas. Semua kelelahan. Setelah membersihkan diri dan memasak, saya tertidur pulas di tenda bersama teman saya dari Mempawah. Tenda berkapasitas empat orang, namun hanya kami berdua.

Tengah malam, saya terbangun. Ada rasa aneh seperti ada orang di antara kami. Saya duduk dan melihat sosok pria muda, mengenakan sarung, tertidur di sela-sela kami. Setengah sadar, saya berpikir mungkin teman dari tenda lain. Tanpa banyak berpikir, saya kembali tidur.

Pagi yang Indah, dan Kebenaran yang Menggetarkan

Pagi hari, Riam Kuweg memperlihatkan keindahannya secara utuh. Kami mandi di bawah aliran airnya yang sejuk. Rasa lelah terbayar lunas. Pepohonan rindang, udara bersih, dan cahaya matahari yang menembus sela daun menciptakan suasana magis.

Namun, misteri belum usai.

Saat kami kembali ke kampung, rombongan kami terpecah. Dua rombongan tersesat di hutan dan baru ditemukan beberapa jam kemudian oleh warga. Di kampung, saya bertanya pada teman satu tenda, “Semalam, siapa yang tidur sama kita?”

Dia terdiam. Lalu menjawab, “Aku juga lihat.”

Bukan hanya kami. Seorang peserta perempuan juga melihat sosok pria muda di seberang riam dengan ciri yang sama. Orang kampung kemudian menjelaskan. Dua minggu sebelumnya, seorang pria muda meninggal di Riam Kuweg. Ia sedang sholat Maghrib di atas batu datar bantaran sungai ketika banjir bandang datang tiba-tiba dan menyeretnya pergi. Menurut adat setempat, pamali untuk camping di sana sebelum 40 hari kepergiannya.

Kami terdiam.

Al-Fatihah buat almarhum yang berasal dari Kecamatan Menterado (Bengkayang, Kalimantan Barat)

Penutup 

Riam Kuweg bukan hanya tentang keindahan alam. Ia menyimpan cerita, jejak manusia, dan pelajaran tentang hormat pada alam dan takdir. Perjalanan ini mengajarkan bahwa tidak semua yang indah hanya bisa dinikmati mata sebagian harus dirasakan dengan hati, dan sebagian lagi… cukup disimpan dalam diam. 

Bengkayang, 3-4 Desember 2022.

Tidak ada komentar:

Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya
+Email : raditmananta@gmail.com
+Twitter : @raditmananta

Tata Tertib Berkomentar di blog misterpangalayo:

1. Gunakan Gaya Tulisan yang Biasa-biasa Saja
2. Tidak Melakukan Komentar yang Sama Disetiap Postingan
3. Berkomentar Mengandung Unsur Sara Tidak di Anjurkan

Diberdayakan oleh Blogger.