Turun Melayu: Konstruksi Identitas Orang Dayak Muslim di Desa Kuala Rosan Kalimantan Barat

misterpangalayo.com - Saat mendengar kata Kalimantan atau Borneo, selalu dikaitkan dengan suku Dayak karena memang salah satu suku bangsa yang terkenal adalah suku bangsa Dayak. Akan tetapi, tentu saja tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan suku bangsa lain juga turut memperkaya khasanah kebudayaan di tanah Kalimantan, salah satunya adalah suku Bangsa Melayu. Menurut data BPS tahun 2003, persentase etnis Melayu dan Dayak di Kalimantan Barat seimbang yaitu sebesar 33,75%. Hal ini menunjukkan bahwa antara Dayak dan Melayu keduanya memberikan warna budaya di Kalimantan Barat.


Walker (2004) mencoba menelusuri keberadaan Melayu di Pulau Kalimantan. Menurutnya orang Melayu berasal dari Kesultanan Malaka di Johor yang memperluas kekuasaannya di Borneo dan menduduki Kesultanan Brunei. Dari sanalah identitas Melayu mulai dipakai dan menyebar ke seluruh wilayah Pulau Kalimantan. Sedangkan penduduk asli Kalimantan sendiri adalah orang Dayak. Keberadaan suku bangsa Melayu, juga tidak terlepas dari masa-masa keemasan kesultanan Melayu yang tersebar di Pulau Kalimantan. Mulai dari Kesultanan Pasir, Kesultanan Pontianak, Kesultanan Bulungan, Kesultanan Sambas dan sebagainya. Hingga saat ini, peninggalan-peninggalan kesultanan terdahulu di Pulau Kalimantan masih bisa ditemukan, dan bahkan beberapa kesultanan masih berjalan dengan system pemerintahan dan kebudayaannya.

Keberadaan suku bangsa Melayu tersebut, sangat identik dengan penyebaran agama Islam di Pulau Kalimantan. Hanya saja, sebagian besar kesultanan awal mulanya mengekspansi wilayah pesisir saja, sehingga perkembangan Islam lebih banyak terjadi di daerah pesisir. Akan tetapi, tentu saja seiring berjalannya waktu, penyebaran Islam mencapai dataran pedalaman Kalimantan dan menyentuh komunitas-komunitas Dayak yang mayoritas berada di wilayah pedalaman.

Persoalan kultural antara identitas suku bangsa dan identitas keagamaan pun ditemui oleh orang Dayak yang memeluk Islam. Kultur Dayak yang seringkali bertentangan dengan ajaran agama Islam tentu saja tidak dapat lagi dipraktekkan oleh orang-orang Dayak yang sudah menjadi muslim. Turun Melayu (secara umum lebih dikenal Masuk Melayu), adalah salah satu upaya orang Dayak pemeluk agama Islam untuk dapat terus menjalankan ajaran agama sekaligus memiliki identitas kultural yang diakui. Artikel ini akan menguraikan bagaimana kehidupan kultural, praktek-praktek apa saja yang dijalani, serta berbagai dinamika kehidupan Muslim Dayak di Desa Kuala Rosan, Kecamatan Meliau, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Peta Kabupaten Sanggau - Prov Kalimantan Barat

Desa Kuala Rosan, sesuai dengan namanya ‘kuala’ yang berarti sungai dan ‘rosan’ yang merupakan nama sungai, adalah sebuah desa yang terletak di pinggir sungai Rosan. Awal terbentuknya Desa Kuala Rosan konon karena kedatangan seorang tua bernama Kek Jaya, seseorang yang beretnis Dayak. Ia berasal dari Sekadau, sebuah desa di hulu sungai Buayan. Keturunan-keturunan Kek Jaya inilah yang kini meninggali dua desa, yaitu Kuala Rosan dan Lubuk Piling. Lambat laun, penduduk dari desa lain pun mendatangi Desa Kuala Rosan dan Lubuk Piling karena kedua desa tersebut sebenarnya terletak di wilayah yang dianggap strategis. Kedua desa tersebut terletak di hilir bertemunya dua sungai, sehingga menjadi jalur transportasi yang strategis. Desa Lubuk Piling lambat laun didominasi oleh pendatang beretnis Dayak, sedangkan Kuala Rosan ditinggali oleh keturunan Kek Jaya.

Turun Melayu, Identitas Baru Dayak Muslim. Seseorang yang berpindah agama Islam umumnya disebut sebagai muallaf. Pada bahasa keseharian, dalam bahasa Indonesia disebut dengan ‘masuk Islam’. Kata yang digunakan adalah masuk sebagai lawan kata dari keluar. Keluar dari agama tertentu dan masuk ke agama Islam. Kata ‘masuk’ ini lebih berkonotasi positif ketimbang kata ‘keluar’ karena kata ‘masuk’ digunakan oleh penganut agama yang dimasukinya. Sehingga orang yang masuk ke agama tertentu dianggap berhijrah ke jalan hidup yang lebih baik.

Masuknya Islam ke Kuala Rosan kabarnya karena kedatangan dua pedagang Melayu dari Banjar yaitu Datuk Encik Tayip dan Haji Sabran. Mereka berdua datang pada tahun 1920-an dan kemudian mendirikan sebuah rumah di Desa Kuala Rosan. Selain mendirikan rumah, mereka juga melakukan aktivitas berdagang disana. Awalnya mereka membeli hasil hutan, damar juga rotan yang dikumpulkan oleh warga. Sambil berdagang mereka juga menyebarkan agama Islam. Hingga saat ini, masih ada keluarga yang mengaku sebagai keturunan Datuk Taip dan Haji Sabran.

Lambat laun, masyarakat Desa Kuala Rosan satu persatu memeluk agama Islam, sehingga desa tersebut mayoritas dihuni oleh orang Islam. Masyarakat lain yang belum memeluk Islam perlaha juga ‘menyingkir’ berpindah ke desa-desa lain di sekitar Kuala Rosan, salah satunya tentu Desa Lubuk Piling. Sebaliknya, orang Dayak yang memeluk agama Islam juga berpindah ke Desa Kuala Rosan.

Encik Tayyib dan Haji Sabran sebagai penyebar agama di wilayah tersebut juga turut membawa kultur baru, yaitu kultur Melayu. Melayu memang sudah identik dengan agama Islam. Aspek-aspek identitas budayanya telah banyak yang disesuaikan dengan syariat agama Islam. Sebaliknya, aspek-aspek identitas budaya Dayak banyak yang bertentangan dengan syariat Islam. Agama atau kepercayaan awal Dayak adalah kaharingan, kepercayaan yang mempercayai dewa Ranying Hatalla. Dalam kepercayaan ini, masyarakat Dayak mempercayai reinkarnasi manusia pada makhluk hidup lainnya. Kepercayaan ini juga tidak mengenal adanya surga dan neraka. Tentu saja kepercayaan ini bertolak belakang dengan syariat Islam yang tidak mempercayai reinkarnasi tetapi meyakini adanya surga dan neraka.

Orang Dayak yang memeluk agama Islam dan tinggal di Desa Kuala Rosan mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Melayu. Menjadi Melayu berarti juga meninggalkan adat istiadat atau kebiasaan mereka ketika masih menyandang etnis Dayak. Proses perpindahan agama dari kepercayaan kaharingan mejadi Islam ini juga diikuti dengan proses perubahan etnis, yaitu dari Dayak menjadi Melayu. Perpindahan agama tetap dibahasakan dengan ‘pindah’ atau ‘masuk’ Islam, sedangkan perpindahan etnis disebut dengan ‘turun’ Melayu. Penggunaan kata ‘turun’ ini merupakan bentuk hegemoni budaya Dayak yang menjadi mayoritas di wilayah tersebut. ‘Turun’ berarti menempati kedudukan yang lebih rendah, sehingga secara tidak langsung menyatakan bahwa Dayak merupakan etnis yang keududukannya lebih tinggi.

Ketika seseorang telah masuk Islam maka ia sebisa mungkin melaksanakan ajaran Islam, melakukan perintah Tuhan dan menjauhi larangannya. Larangan-larangan dalam Islam inilah yang sering berbenturan dengan adat Dayak. Tuak dan daging babi merupakan hidangan wajib dalam setiap perjamuan adat Dayak. Tuak beras, minuman tradisional Dayak yang terbuat dari beras ketan mengandung alkohol dan memabukkan.

Hubungan dengan Orang Dayak. Sebagai sebuah perkampungan muslim di tengah-tengah mayoritas suku bangsa Dayak, persinggungan dengan orang Dayak tentu tidak dapat dihindari. Apalagi, Desa Kuala Rosan berbatasan langsung dengan sebuah perkampungan Dayak. Begitu juga dengan kehidupan sehari-hari, mau tidak mau mereka harus saling berhubungan satu sama lain. Hubungan antar kedua etnis tersebut seringkali terjadi saat perhelatan agenda-agenda besar, seperti pesta pernikahan dan pesta Gawai Adat. Setiap kali orang Dayak mengadakan acara Gawai (pesta panen tahunan) maka orang Kuala Rosan akan selalu berpartisipasi.

Kesimpulan. 

Konversi keagamaan yang dilakukan oleh orang Dayak diikuti juga dengan konversi identitas etnis menjadi Melayu. Orang Dayak yang memeluk agama Islam ini menyebut dirinya sebagai turun melayu. Selain menjalankan praktek keagamaan sesuai dengan tuntunan Islam, orang Dayak yang memeluk Islam juga meninggalkan adat-istiadat Dayak mereka dan mengganti dengan adat istiadat Melayu. Sekalipun demikian, beberapa kebiasaan yang juga dilakukan oleh orang Dayak tetap diikuti oleh orang muslim Melayu di Kuala Rosan. Mengingat wilayah hidup mereka yang saling berdampingan. Identitas Melayu menjadi identitas yang penting bagi orang Dayak yang beragama Islam, karena identitas tersebut tidak hanya mengakomodasi keislaman mereka, tetapi juga mengakomodasi kultur mereka.

Kecamatan-kecamatan yang ada di Kab. Sanggau (Kalbar)

Sumber : 
A. Lathifah, "Turun Melayu: Konstruksi Identitas Orang Dayak Muslim di Desa Kuala Rosan Kalimantan Barat," Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi, vol. 2, no. 1, pp. 80-87, Dec. 2018. https://ejournal.undip.ac.id/index.php/endogami/article/view/21331/14313
  • Hall, Stuart. 1990. The Question of Cultural Identity. dalam Modernity and It’s Future, hal. 274-316. Cambridge: Polity Press.
  • _________. 1997. Representation: Cultural Representation an sisgnifying practices. California: Sage in Association with the Open University Geertz, Clifford. 1973. The Interpretation of Culture. New York: Basic Books.
  • ____________, 1983. “From The Native’s Point of View”. On The Nature of Anthropological Understanding in Local Knowlegde: Further Essay in Interpretive Anthropology. New York: Basic Books.
  • Soemardjan dan Soleman, Soemardi (ed). 1974. Setangkai Bunga Sosiologi. Jakarta: Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi UI.
  • Spradley, James P. 1972. Culture and Cognition: Rules, Maps and Plans. New York : Chandler Publishing Company.
  • ______________. 2007. Metode Penelitian Etnografi. Jakarta: Tiara Wacana Tockary, R. 2003. “Catatan Singkat tentang Konflik Etnis-Agama di Indonesia” dalam Konflik Komunal di Indonesia Saat ini. Jakarta: Indonesian-Netherlands Corporation in Islamic Studies
  • Walker, J.H. “Autonomy, Diversity, and Dissent : Conception of Power and sources of action in the ‘Sejarah Melayu’ (Raffless MS 18)” dalam Theory and Society, Vol. 33, No. 2 (Apr., 2004), pp. 213-255.

No comments:

Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya
+Email : raditmananta@gmail.com
+Twitter : @raditmananta

Tata Tertib Berkomentar di blog misterpangalayo:

1. Gunakan Gaya Tulisan yang Biasa-biasa Saja
2. Tidak Melakukan Komentar yang Sama Disetiap Postingan
3. Berkomentar Mengandung Unsur Sara Tidak di Anjurkan

Powered by Blogger.