Legenda Burung Ruai: Cerita Rakyat Dayak Bakati di Kalimantan Barat

misterpangalayo.com - Cerita rakyat merupakan warisan leluhur yang memuat kisah mendalam, pesan moral, serta nilai-nilai kehidupan tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan sesama dan alam sekitarnya. Di wilayah Kalimantan Barat, kaya akan kisah-kisah tradisional yang terus hidup dari generasi ke generasi. 

Salah satu legenda yang sangat lekat di hati masyarakat adalah kisah Asal Usul Burung Ruai (atau Burung Arue/Kuau Besar). Kali ini, mari kita menyelami kembali kisah klasik ini dengan latar belakang historis dan geografis di wilayah Kerajaan Senujuh (lebih dikenal dengan Kerajaan Nek Riuh), yang terletak di sebelah timur Kota Sekura (secara administratif berada di Kecamatan Sejangkung / bagian hulu Sungai Sambas Besar), wilayah adat Dayak Bakati, Kabupaten Sambas.

Bagi masyarakat Dayak Bakati (dan Melayu Sambas), Burung Ruai dikenal sebagai burung dengan bulu yang sangat indah dan suara yang lantang. Keindahan bulunya bahkan sering diabadikan sebagai mahkota adat (tangkulas) dalam pakaian tradisi. Namun di balik pesonanya, masyarakat Dayak Bakati percaya bahwa burung ini merupakan penjelmaan dari seorang putri raja yang bernasib malang.

Beginilah kisah lengkapnya.

Istana di Timur Sekura (Kerajaan Nek Riuh / Kerajaan Senujuh)

Alkisah, pada zaman dahulu di sebelah timur Kota Sekura, berdirilah sebuah kerajaan adat suku Dayak Bakati bernama Kerajaan Senujuh. Kerajaan ini bertumpu di sekitar lereng Gunung Senujuh yang subur dan asri. Raja yang memimpin kerajaan tersebut dikenal bijaksana, namun ia menyimpan kesedihan karena sang permaisuri telah wafat saat putri bungsu mereka masih sangat kecil. Sang Raja membesarkan sendiri ketujuh orang putrinya.

Di antara ketujuh putri tersebut, si Bungsu tumbuh menjadi gadis yang paling menonjol. Tak hanya memiliki paras yang elok nan rupawan (juga dikenal Dara Tarigas), ia juga dikenal berbudi pekerti luhur, rajin, suka menolong, dan sangat berbakti kepada orang tua. Kondisi ini berbanding terbalik dengan keenam kakak perempuannya. 

Mereka memiliki watak yang angkuh, pemalas, iri hati, dan suka membantah. Perbedaan tabiat yang mencolok ini membuat sang Raja secara alami lebih menaruh kasih sayang dan perhatian kepada si Bungsu.

Iri Hati yang Menjadi Siasat Kejam

Perlakuan istimewa dari sang Ayah rupanya menyulut api cemburu di hati keenam kakaknya. Setiap kali sang Raja pergi meninggalkan istana untuk urusan kerajaan, keenam kakaknya langsung melampiaskan kebencian mereka. Si Bungsu diperlakukan layaknya pelayan, diperintah sesuka hati, bahkan kerap mendapat siksaan fisik berupa pukulan hingga tubuhnya lebam. Karena terus diancam, si Bungsu tidak pernah berani mengadu kepada sang Ayah.

Suatu hari, sang Raja harus melakukan kunjungan diplomatik ke kerajaan tetangga (Kerajaan Bawakng yang terletak di Gunung Bawang) selama satu bulan penuh. Sebelum berangkat, sang Raja mengumpulkan seluruh putrinya di pendopo istana. "Dengarlah wahai putri-putriku," kata sang Raja. "Selama Ayah pergi, urusan dan keputusan kerajaan ini Ayah limpahkan kepada si Bungsu. Kalian semua harus patuh pada perintah adikmu."

Keputusan tersebut bagai menyiram minyak ke dalam api. Keinginan keenam kakaknya untuk menyingkirkan si Bungsu selamanya kini sudah bulat. Sepeninggal sang Raja, mereka merebut paksa kekuasaan istana dan menyusun rencana yang keji.

Terjebak di Gua Batu Gunung Senujuh

Pada suatu siang, keenam kakaknya mengajak si Bungsu pergi ke Gua Batu Gunung Senujuh. Mereka berdalih ingin mengajak si Bungsu mencari ikan di aliran sungai kecil yang berada di dalam lorong gua tersebut. Tanpa menaruh rasa curiga, si Bungsu menyanggupi ajakan kakak-kakaknya.

Setibanya di sana, si Bungsu diminta untuk berjalan paling depan menyusuri kegelapan lorong Gua Batu. Ketika si Bungsu sudah melangkah jauh ke dalam keheningan gua, keenam kakaknya dengan cepat berbalik arah dan berlari meninggalkan tempat itu. Mereka membiarkan si Bungsu tersesat sendirian di dalam perut bumi yang gelap gulita.

Berhari-hari si Bungsu menangis di dalam gua. Ia kelaparan, kedinginan, dan kehilangan arah, hanya bisa meratapi nasib nestapanya seraya merindukan mendiang ibunya.

Keajaiban di Dalam Gua

Tepat pada hari ketujuh, keajaiban terjadi. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang dahsyat bergema di dalam gua seolah dinding-dinding batu akan runtuh. Di tengah kepanikan si Bungsu, muncullah sesosok kakek tua misterius berwajah teduh yang ternyata adalah pertapa sakti penghuni Gua Batu Gunung Senujuh.

"Mengapa engkau menangis terisak di tempat yang gelap ini, Cucuku?" tanya kakek sakti itu dengan lembut.

Sambil berlinang air mata, si Bungsu menceritakan seluruh kekejaman yang ia terima dari kakak-kakaknya hingga ia dibuang di gua tersebut. Mendengar kisah pilu itu, sang kakek merasa sangat iba.

Dengan kesaktian yang dimilikinya, sang kakek mengubah setiap tetesan air mata si Bungsu yang jatuh ke lantai gua menjadi butiran telur putih yang besar dan berjumlah banyak. Tak lama kemudian, perlahan-lahan kedua lengan si Bungsu mulai ditumbuhi bulu-bulu halus yang kemudian melebar menjadi sepasang sayap yang indah.

"Tenanglah, Cucuku. Kakek akan membebaskanmu dari penderitaan manusia ini," ucap sang kakek. "Engkau akan menjelma menjadi seekor burung yang elok. Eramilah telur-telur hasil air matamu ini hingga menetas, agar kelak engkau memiliki kawanan yang setia menemanimu."

Setelah sang kakek merapalkan doa, seluruh tubuh si Bungsu berubah sepenuhnya menjadi seekor burung dengan bulu motif bintik keindahan yang luar biasa. Sang kakek memberi burung itu nama Burung Ruai (atau Arue). Setelah bersuara "Kwek... kwek... kwek..." sebagai tanda terima kasih, kakek sakti itu pun menghilang secara misterius.

Akhir Cerita dan Pesan Moral

Si Bungsu yang telah berwujud Burung Ruai dengan setia mengerami telur-telurnya selama 25 hari hingga menetas semuanya. Setelah anak-anaknya tumbuh dewasa dan pandai terbang, kawanan Burung Ruai ini terbang keluar dari Gua Batu Gunung Senujuh.

Mereka terbang menuju istana Kerajaan Senujuh dan bertengger di atas pohon-pohon tinggi di halaman keraton. Dari atas dahan, si Bungsu menyaksikan bahwa sang Ayah telah kembali dan mengetahui semua tindakan keji keenam putrinya. Sebagai balasannya, keenam kakak yang jahat itu dijatuhi hukuman berat dan diusir dari kerajaan.

Pesan Moral:

Legenda masyarakat Dayak Bakati di Gunung Senujuh ini mengajarkan kita tentang bahaya laten dari sifat iri hati dan dengki. Sifat buruk tersebut bisa membutakan mata hati hingga tega menganiaya darah daging sendiri. Namun, kisah ini juga memberikan keyakinan bahwa setiap tindakan keji dan semena-mena pada akhirnya akan mendapatkan balasan yang setimpal, sementara ketabahan dan budi pekerti yang baik akan selalu menemukan jalan keselamatannya sendiri.

Tidak ada komentar:

Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya
+Email : raditmananta@gmail.com
+Twitter : @raditmananta

Tata Tertib Berkomentar di blog misterpangalayo:

1. Gunakan Gaya Tulisan yang Biasa-biasa Saja
2. Tidak Melakukan Komentar yang Sama Disetiap Postingan
3. Berkomentar Mengandung Unsur Sara Tidak di Anjurkan

Diberdayakan oleh Blogger.