DAYAK BAKATI LUMAR : Menelusuri Jejak Leluhur dan Jejak Hubungan dengan Masyarakat Tionghoa di Bengkayang, Kalimantan Barat

misterpangalayo.com - Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, merupakan salah satu wilayah yang memiliki kekayaan sejarah dan kebudayaan masyarakat Dayak. Di antara kelompok masyarakat yang mendiami wilayah ini adalah Dayak Bakati’ Lumar, sebuah kelompok masyarakat Dayak Bakati’ yang memiliki identitas bahasa, wilayah adat, serta perjalanan sejarah tersendiri.

Dayak Bakati’ Lumar dikenal sebagai masyarakat yang mendiami wilayah Binua Lumar. Kehidupan mereka tidak dapat dipisahkan dari tanah leluhur, tradisi, bahasa, serta hubungan sosial dengan kelompok masyarakat lain yang telah berlangsung sejak masa lampau.

Salah satu bagian menarik dalam perjalanan sejarah masyarakat Bakati’ Lumar adalah hubungannya dengan masyarakat Tionghoa Hakka. Kedatangan orang-orang Tionghoa ke kawasan Lumar, terutama dalam kegiatan pertambangan emas pada masa kolonial Belanda, membawa perubahan dalam kehidupan sosial, ekonomi, bahasa, dan kebudayaan masyarakat setempat.

Sejarah tersebut memperlihatkan bahwa identitas Dayak Bakati’ Lumar tidak hanya terbentuk melalui warisan leluhur, tetapi juga melalui proses perjumpaan dan interaksi dengan masyarakat lain selama beberapa generasi.

Mengenal Dayak Bakati’ Lumar dan Wilayah Adatnya

Dayak Bakati’ Lumar merupakan bagian dari masyarakat Dayak Bakati’ yang tinggal di wilayah Binua Lumar, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Dalam dokumentasi Dayakologi, wilayah adat Lumar mencakup sejumlah kampung, yaitu Lumar, Madi, Maba’, Jelatok, Molo, Magap, Selayu, Magmagan, Sempayu’ atau Melambe, Sekinyak, Sibo, Sekaru’, Babuluh, Silap, dan Sansak.

Bagi masyarakat Dayak, wilayah adat bukan sekadar tempat tinggal. Wilayah tersebut merupakan bagian dari identitas dan sejarah kehidupan masyarakat. Di dalamnya terdapat tanah leluhur, kawasan pertanian, hutan, sungai, serta tempat-tempat yang memiliki nilai sosial dan budaya.

Kehidupan masyarakat Bakati’ Lumar tumbuh melalui hubungan antarkampung, ikatan kekeluargaan, dan adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun.

Bahasa Bakati’ Lumar: Identitas yang Diwariskan Leluhur

Salah satu ciri khas masyarakat Bakati’ Lumar adalah bahasa daerah yang mereka gunakan, yaitu bahasa Bakati’.

Meskipun memiliki hubungan dengan bahasa Bakati’ dari kelompok lain, bahasa Bakati’ Lumar memperlihatkan karakteristik pengucapan tertentu yang membedakannya.

Dalam catatan Dayakologi disebutkan bahwa salah satu cirinya adalah tidak munculnya bunyi sengau pada posisi tertentu dalam pengucapan kata.

Sebagai contoh, kata Kanayatn dalam bahasa Bakati’ pada umumnya diucapkan Kanayat oleh masyarakat Bakati’ Lumar. Begitu pula kata barekng yang berarti tangan, diucapkan menjadi barek  tanpa bunyi akhir sengau.

Perbedaan tersebut menunjukkan kekayaan variasi bahasa di lingkungan masyarakat Dayak Bakati’. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, melainkan juga tempat tersimpannya pengetahuan leluhur, sejarah kampung, istilah adat, cerita rakyat, dan nilai-nilai kehidupan masyarakat.

Karena itu, bahasa Bakati’ Lumar merupakan warisan budaya yang penting untuk terus didokumentasikan dan diwariskan kepada generasi muda.

Menelusuri Jejak Leluhur dan Asal-Usul

Membicarakan asal-usul Dayak Bakati’ Lumar berarti menelusuri sejarah masyarakat yang sebagian besar diwariskan melalui cerita lisan dan ingatan para tetua adat.

Hingga saat ini, informasi tertulis mengenai asal-usul khusus masyarakat Bakati’ Lumar masih terbatas. Namun, dalam penelusuran sejarah masyarakat Bakati’ secara lebih luas, terdapat tradisi lisan yang menghubungkan leluhur masyarakat dengan kawasan Gunung Bawang atau Bukit Bawakng di Kabupaten Bengkayang.

Gunung Bawang dikenal dalam sejumlah cerita masyarakat Dayak sebagai kawasan yang memiliki nilai sakral dan hubungan dengan kehidupan leluhur. Dalam tradisi lisan tertentu, kawasan ini dikaitkan dengan kehadiran Jubata, sebutan bagi Yang Ilahi dalam kepercayaan tradisional masyarakat Dayak.

Salah satu dokumentasi cerita rakyat dalam buku Hutan Angker di Tepian Sungai Sebangkau menggambarkan Gunung Bawang sebagai kawasan keramat dengan tujuh tingkatan. Cerita tersebut juga memuat nama Jubata Salujatn Maniamas.

Kisah-kisah mengenai Gunung Bawang menjadi bagian penting dari kekayaan tradisi lisan masyarakat Dayak di Bengkayang. Namun, hubungan langsung antara kisah tersebut dengan silsilah khusus masyarakat Bakati’ Lumar masih perlu ditelusuri melalui penelitian dan wawancara dengan para tetua adat.

Dengan demikian, jejak leluhur Bakati’ Lumar masih menyimpan ruang penelitian yang luas, mulai dari asal-usul kampung, silsilah keluarga, perpindahan leluhur, hingga hubungan mereka dengan kelompok Bakati’ lainnya.

Kedatangan Masyarakat Tionghoa Hakka ke Lumar

Salah satu bab penting dalam sejarah masyarakat Bakati’ Lumar adalah kedatangan orang-orang Tionghoa Hakka. Menurut catatan Dayakologi, masyarakat Bakati’ Lumar telah dikenal sejak masa penjajahan Belanda, terutama karena interaksi mereka dengan orang-orang Tionghoa Hakka yang datang untuk bekerja di berbagai pertambangan emas di wilayah Lumar.

Kedatangan para pendatang tersebut membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat setempat. Dalam penuturan yang dicatat, para pendatang Tionghoa pada masa awal sebagian besar terdiri atas laki-laki yang datang dengan bekal seadanya. Salah satu hal yang masih diingat dalam cerita masyarakat adalah kebiasaan mereka membawa handuk berwarna merah.

Seiring waktu, hubungan antara masyarakat Tionghoa dan Dayak semakin berkembang. Terjadi perkawinan antara laki-laki Tionghoa dengan perempuan Dayak, sehingga lahir generasi keturunan campuran.

Perkawinan antarkelompok ini memperlihatkan bahwa hubungan masyarakat Bakati’ Lumar dan Tionghoa bukan hanya hubungan ekonomi, tetapi juga hubungan kekeluargaan yang membentuk kehidupan sosial lintas generasi.

Pertambangan Emas dan Perubahan Kehidupan Masyarakat

Aktivitas pertambangan emas menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan sejarah Lumar. Pada masa kolonial Belanda, kawasan ini dikenal sebagai salah satu tempat aktivitas pertambangan emas yang melibatkan masyarakat Tionghoa Hakka.

Dalam catatan Dayakologi, Lumar pada masa itu digambarkan sebagai kawasan perkampungan masyarakat Tionghoa Hakka. Sementara itu, masyarakat Dayak lebih banyak tinggal di kawasan pegunungan dan dataran tinggi di sekitar Lumar.

Perbedaan pola permukiman tersebut menunjukkan adanya pembagian ruang kehidupan berdasarkan aktivitas dan mata pencaharian masyarakat pada masa itu.

Bagi masyarakat Tionghoa, pertambangan emas menjadi salah satu sumber penghidupan dan kegiatan ekonomi. Sementara bagi masyarakat Dayak, keberadaan pertambangan membawa perubahan terhadap hubungan mereka dengan tanah, lingkungan, dan masyarakat pendatang.

Pertambangan tidak hanya mengubah keadaan ekonomi, tetapi juga mempertemukan dua kelompok masyarakat dengan latar belakang budaya yang berbeda. Dari perjumpaan tersebut lahir hubungan perdagangan, kerja sama, perkawinan, pertukaran pengetahuan, dan proses penyesuaian kebudayaan.

Namun, perkembangan pertambangan juga menyimpan persoalan, terutama yang berkaitan dengan penguasaan tanah dan kepentingan ekonomi.

Hubungan Dayak dan Tionghoa: Perpaduan Budaya dan Kehidupan Sosial

Pada awalnya, hubungan antara masyarakat Dayak dan Tionghoa di Lumar disebut berlangsung cukup harmonis.

Masyarakat Dayak banyak belajar dari orang-orang Tionghoa mengenai cara berkebun, bertani, dan beternak. Pengaruh hubungan tersebut juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam bidang kuliner dan cara memasak.

Selain pertukaran pengetahuan, interaksi yang berlangsung cukup lama turut memengaruhi bahasa masyarakat setempat.

Sejumlah kosakata yang berasal dari bahasa Tionghoa Kek disebut terserap ke dalam bahasa lokal, antara lain: Boksan, Muk, Popat, Teokang, dan masih banyak lainnya. Kosakata tersebut menjadi petunjuk adanya hubungan bahasa dan kebudayaan yang berlangsung dalam kehidupan masyarakat Lumar.

Proses penyerapan kata seperti ini merupakan hal yang wajar dalam masyarakat yang hidup berdampingan dan berinteraksi selama waktu panjang.

Hubungan tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan masyarakat Bakati’ Lumar berkembang melalui proses perjumpaan dengan berbagai kelompok masyarakat tanpa kehilangan identitas dasarnya.

Konflik Tanah dan Ingatan Sejarah Masyarakat

Di balik hubungan sosial yang terjalin, sejarah masyarakat Bakati’ Lumar juga menyimpan kisah mengenai ketegangan dan konflik. Dalam dokumentasi Dayakologi terdapat penuturan informan mengenai peristiwa pertikaian antara masyarakat Dayak dan orang-orang Tionghoa di Kampung Sungai Tarekng.

Konflik tersebut dikaitkan dengan persoalan tanah yang hendak digunakan untuk kegiatan pertambangan emas. Menurut penuturan informan, masyarakat Dayak yang menolak tanahnya diambil untuk kepentingan pertambangan menjadi korban kekerasan, bahkan disebut terjadi pembunuhan.

Keterangan ini merupakan bagian dari sejarah lisan yang penting untuk dicatat. Namun, waktu kejadian, jumlah korban, identitas pihak yang terlibat, dan rangkaian peristiwanya masih membutuhkan penelitian serta pembuktian melalui sumber sejarah lainnya.

Catatan tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan pertambangan emas tidak selalu membawa hubungan yang harmonis. Persoalan kepemilikan tanah dan penguasaan sumber daya alam dapat menimbulkan ketegangan antara masyarakat lokal dan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap pertambangan.

Karena itu, sejarah hubungan Dayak dan Tionghoa di Lumar perlu dipahami secara menyeluruh. Di dalamnya terdapat kisah persaudaraan, perkawinan, pertukaran budaya, tetapi juga pengalaman konflik yang menjadi bagian dari ingatan masyarakat.

Perubahan Permukiman dan Kehidupan Sebelum Tahun 1967

Catatan Dayakologi juga menyebutkan bahwa sebelum peristiwa demonstrasi tahun 1967, masyarakat Dayak di wilayah Lumar umumnya lebih banyak tinggal di kawasan pegunungan dan dataran tinggi, bukan di sepanjang jalan utama.

Sementara itu, kawasan Lumar yang berkembang karena aktivitas pertambangan dikenal sebagai perkampungan masyarakat Tionghoa Hakka. Keterangan ini memberikan gambaran mengenai pola permukiman dan kehidupan sosial masyarakat pada masa tersebut.

Peristiwa tahun 1967 merupakan periode penting dalam sejarah sosial Kalimantan Barat. Untuk memahami secara lebih mendalam bagaimana peristiwa tersebut memengaruhi masyarakat Bakati’ Lumar, diperlukan penelusuran arsip dan kesaksian sejarah dari masyarakat setempat.

Menjaga Warisan Leluhur dan Identitas Bakati’ Lumar

Di tengah perjalanan sejarah dan perubahan zaman, masyarakat Bakati’ Lumar tetap memiliki warisan budaya yang menjadi bagian penting dari identitas mereka. Salah satu tradisi yang terdokumentasi adalah Ngarantek Sawa. Tradisi ini berkaitan dengan ungkapan syukur dan permohonan kepada Tuhan agar masyarakat mendapatkan perlindungan, petunjuk, serta berkat dalam menjalani kehidupan.

Pada 9 Juni 2023, pelaksanaan Ngarantek Sawa juga menjadi bagian dari momentum peresmian Ramin Adat Banua Lumar. Keberadaan Ramin Adat Banua Lumar merupakan salah satu bentuk upaya menjaga identitas dan warisan budaya masyarakat.

Selain tradisi tersebut, kehidupan masyarakat Bakati’ Lumar juga menyimpan kekayaan budaya melalui bahasa, adat istiadat, sistem kekerabatan, tradisi berladang atau Nguma, pengetahuan tentang alam, serta cerita-cerita yang diwariskan secara turun-temurun. Semua warisan tersebut perlu terus dijaga melalui pendokumentasian dan pengenalan kepada generasi muda.

Kesimpulan

Dayak Bakati’ Lumar merupakan bagian dari kekayaan sejarah dan kebudayaan masyarakat Dayak di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Perjalanan sejarahnya menyimpan berbagai kisah mengenai jejak leluhur, perkembangan wilayah adat, kekhasan bahasa, serta hubungan panjang dengan masyarakat Tionghoa Hakka yang datang pada masa pertambangan emas.

Hubungan kedua kelompok masyarakat tersebut telah melahirkan berbagai bentuk interaksi, mulai dari kerja sama ekonomi, pertukaran pengetahuan, penyerapan kosakata, hingga perkawinan antaretnis yang membentuk hubungan kekeluargaan lintas generasi.

Namun, sejarah tersebut juga menyimpan pengalaman mengenai persoalan tanah dan konflik yang menjadi bagian dari ingatan masyarakat Lumar.

Semua itu memperlihatkan bahwa sejarah Dayak Bakati’ Lumar bukan hanya tentang asal-usul suatu kelompok masyarakat, melainkan juga tentang perjalanan sebuah komunitas dalam menghadapi perubahan zaman dan membangun hubungan dengan masyarakat di sekitarnya.

Penelusuran sejarah ini masih perlu dilanjutkan melalui wawancara para tetua adat, pencatatan silsilah leluhur, pengumpulan cerita lisan, penelitian bahasa, serta penelusuran arsip pertambangan dan pemerintahan kolonial.

Sebab, mengenal sejarah leluhur bukan sekadar mengingat masa lalu, tetapi juga memahami identitas dan menjaga warisan budaya agar tetap hidup bagi generasi mendatang.

Dayak Bakati’ Lumar memiliki sejarah, bahasa, dan kebudayaan yang patut dikenal. Jejak leluhur dan kisah perjumpaannya dengan masyarakat Tionghoa merupakan bagian dari perjalanan sejarah Bengkayang yang layak dicatat dan diwariskan.

Sumber dan Referensi

  1. Dayakologi.org, dokumentasi mengenai Dayak Bakati’ Lumar, wilayah adat, bahasa, hubungan dengan masyarakat Tionghoa Kek, dan sejarah pertambangan emas di Lumar.

  2. Institut Dayakologi, dokumentasi sejarah dan kebudayaan masyarakat Dayak Kalimantan Barat.

  3. Neni Puji Rahmawati (2009), Pemetaan Suku Dayak Bakati’ di Kabupaten Sambas Provinsi Kalimantan Barat, BPSNT Pontianak.

  4. Leo Rahmad, Patriantoro, dan Amriani Amir (2019), penelitian peristilahan dalam proses Nguma Dayak Bakati’ Dusun Sempayuk, Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang.

  5. Riani Nova (2022), Nomina Bahasa Dayak Bakatik di Dusun Madi Kecamatan Lumar Kabupaten Bengkayang.

  6. Hutan Angker di Tepian Sungai Sebangkau, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

  7. Pontianak Globe (17 Mei 2024), tulisan mengenai Dayak Bakati’ dan tradisi lisan asal-usulnya.

Tidak ada komentar:

Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya
+Email : raditmananta@gmail.com
+Twitter : @raditmananta

Tata Tertib Berkomentar di blog misterpangalayo:

1. Gunakan Gaya Tulisan yang Biasa-biasa Saja
2. Tidak Melakukan Komentar yang Sama Disetiap Postingan
3. Berkomentar Mengandung Unsur Sara Tidak di Anjurkan

Diberdayakan oleh Blogger.