Translate

Cerita Rakyat Sambas: Asal Usul Desa Mak Rampai di Benua Tebas

misterpangalayo.com - Pada masa ketika hutan di tanah Sambas masih rapat bagai dinding hijau yang tak bertepi, dan sungai-sungainya menjadi urat nadi kehidupan, kawasan yang kini dikenal sebagai Kecamatan Tebas dari Kuala hingga Pedalaman, yang berbatasan dengan Benua Lumar, Bengkayang telah lebih dahulu dihuni oleh masyarakat Dayak Kanayatn (Salako) dan Bakati. Orang-orang tua dahulu menyebut wilayah ini sebagai benua: sebuah hamparan hidup yang memiliki roh, hukum adat, dan penjaga yang tak selalu kasatmata.

Di tanah inilah angin membawa kisah hijrah, pertemuan budaya, serta kelahiran sebuah desa yang hingga kini namanya masih diselimuti aroma harum bunga rampai: Mak Rampai, atau dalam sebutan Dayak dikenal sebagai Nek Rampai.


Jejak Hijrah dari Sungai ke Benua Tebas

Selepas Raden Sulaiman meninggalkan Kota Lama, ibu kota Panembahan Sambas yang kini masuk wilayah Kecamatan Galing dan membuka perkampungan baru di Lubuk Madung, kabar tentang tanah-tanah subur di sepanjang Sungai Sambas Besar menyebar ke berbagai penjuru. Orang Melayu pesisir, para perantau sungai, dan keluarga-keluarga pencari penghidupan baru datang silih berganti.

Namun jauh sebelum riuh hijrah itu, pedalaman Tebas telah lama hidup dalam irama Dayak Kanayatn dan Bakati. Mereka membuka huma, ladang dan sawah, berburu secukupnya, dan menjaga batas adat yang diwariskan leluhur. Hutan bagi mereka bukan sekadar tempat mencari makan, melainkan saudara tua yang harus dihormati.

Ada hutan yang boleh dibuka dengan adat dan izin, dan ada hutan larangan yang hanya bisa dimasuki dengan doa serta niat yang bersih.


Keluarga Nek Bussu dan Perjalanan Menuju Tebas

Di antara rombongan yang mencari penghidupan baru, hiduplah sebuah keluarga sederhana: Nek Bussu, istrinya, dan anak mereka yang bernama Bujang. Mereka berasal dari Lubuk Madung, kawasan permukiman di sekitar Muara Ulakan, Sambas, yang kian padat oleh penduduk.

Sawah tak lagi selapang dahulu. Ikan sungai makin jarang tertangkap. Suatu malam, di bawah sinar pelita yang redup dan nyanyian serangga malam, Nek Bussu menyampaikan niatnya kepada sang istri.

Ilustrasi Nek Bussu sedang berdiskusi dengan istrinya untuk hijrah dari Lubuk Madung ke Tebas

“Istriku,” katanya lirih, “tanah kita di sini sudah tak seperti dulu. Aku dengar di wilayah yang dahulu pernah ditebas oleh rombongan Raden Sulaiman, tanahnya masih luas, ikannya banyak, dan orang-orangnya hidup damai.”

Sang istri menatap Bujang yang terlelap. Ia perempuan yang terbiasa menerima takdir dengan ikhtiar. “Kalau abang yakin,” jawabnya pelan, “kita ikut. Mudah-mudahan rezeki kita terbuka di tanah baru.”

Dengan doa, mereka menyusuri Sungai Sambas Besar menggunakan sampan kecil. Di tiap persinggahan, Nek Bussu melempar jala, sementara istrinya menyiapkan bekal. Sungai menjadi saksi perpindahan nasib mereka.

Ilusttrasi Nek Bussu dan keluarga hijrah mengarungi rimbunnya Sungai Sambas

Sambutan Tanah Dayak di Benua Tebas

Setibanya di wilayah yang kini dikenal sebagai Kota Tebas (dahulu disebut Benua Tambang Laut), Nek Bussu tidak serta-merta membuka hutan. Ia lebih dahulu menemui tetua kampung Melayu. Melalui merekalah ia diperkenalkan kepada kepala adat Dayak Kanayatn yang wilayahnya berbatasan langsung dengan hutan Tebas.

Dengan bahasa yang sederhana dan penuh hormat, Nek Bussu menyampaikan maksudnya untuk membuka ladang dan bermukim. Para tetua Dayak mengangguk pelan.

“Tanah ini hidup,” ujar salah seorang tetua adat. “Ada yang boleh dibuka, ada yang harus dijaga. Di utara sana, ada hutan tua. Jangan sembarang masuk.”

Mereka menyebut hutan itu sebagai wilayah penunggu perempuan tua (bangsa bunian) yang harum aromanya, penguasa bunga-bunga kuning yang tumbuh di rimba.


Hutan Larangan dan Sosok Nek Datok

Hutan itu rimbun dan sunyi. Pohon-pohon besar menjulang, akarnya menjalar seperti urat bumi. Di sanalah tumbuh bunga rampai, kenanga hutan yang baunya lembut namun kuat, seolah menandai kehadiran sesuatu yang tak terlihat.

Orang Dayak Kanayatn dan Bakati meyakini penunggu hutan itu adalah perempuan tua penjaga keseimbangan alam. Orang Melayu yang datang kemudian menyapanya dengan panggilan penuh hormat: Mak atau Nek Datok.

Siapa pun yang masuk tanpa izin, dipercaya akan dibuat lupa jalan pulang. Bukan untuk mencelakai, melainkan untuk mengingatkan bahwa manusia tidak boleh sombong di hadapan alam.

Jika seseorang tersesat, adat Dayak dan Melayu berpadu: doa dibaca, sesaji disiapkan mulai dari ketupat, kue cucur, dan rateh diletakkan. Upacara besam-sam (memberi sesajen kepada penunggu hutan) dilakukan agar jalan kembali dibukakan.

Ilustrasi Hutan Utara Tebas dan melakukan adat besamsam (memberi sesajen kepada penunggu hutan)

Nek Bussu dan Bunga Rampai

Nek Bussu dikenal santun dan tahu adat. Suatu hari, ia memerlukan bunga rampai untuk pengobatan tradisional. Dengan ditemani Bujang, ia berdiri di tepi hutan larangan.

Dengan suara lirih dan penuh hormat, ia berucap, “Nek Datok… anak cucu numpang lewat. Kami minta setangkai rampai untuk obat, bukan untuk merusak.”

Angin berembus pelan. Harum bunga menguat. Tak ada suara, tak ada tanda murka. Mereka memetik secukupnya dan segera pulang.

Sejak hari itu, Nek Bussu dan keluarganya tak pernah diganggu. Ladang mereka subur, padi berisi, dan hidup mereka berkecukupan.


Lahirnya Nama Mak Rampai (Nek Rampai)

Karena hutan itu belum bernama, dan karena orang-orang selalu mengaitkannya dengan sosok Nek Datok penjaga bunga rampai, lama-kelamaan masyarakat menyebut wilayah itu Mak Rampai, tanah Nek Datok yang harum oleh bunga rampai.

Nama itu hidup dari mulut ke mulut, dari cerita orang Dayak ke kisah orang Melayu, hingga akhirnya menetap sebagai nama desa.


Warisan Benua Tebas

Desa Mak Rampai tumbuh di persimpangan budaya: Dayak Kanayatn dan Bakati dengan adat rimbanya, Melayu Sambas dengan sungai dan syiar Islamnya. Mereka hidup berdampingan, saling menghormati batas, dan saling belajar membaca tanda-tanda alam.

Hingga kini, hutan tua itu masih dihormati. Bunga rampai tetap tumbuh. Kisah Nek Datok tetap diceritakan sebagai pengingat bahwa desa ini lahir bukan dari penaklukan, melainkan dari kesepakatan adat, doa, dan rasa hormat kepada alam.

Demikianlah asal-usul Desa Mak Rampai di Benua Tebas: lahir dari hijrah manusia, dijaga oleh adat Dayak, diselimuti doa Melayu, dan dirawat oleh alam yang tak pernah lupa pada janji manusia.

Tidak ada komentar:

Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya
+Email : raditmananta@gmail.com
+Twitter : @raditmananta

Tata Tertib Berkomentar di blog misterpangalayo:

1. Gunakan Gaya Tulisan yang Biasa-biasa Saja
2. Tidak Melakukan Komentar yang Sama Disetiap Postingan
3. Berkomentar Mengandung Unsur Sara Tidak di Anjurkan

Diberdayakan oleh Blogger.