Penyebaran Dayak Selako di Pulau Borneo

SAMBASBORNEO - Dayak Salako di Pulau Kalimantan diyakini berasal dari daerah Aliran Sungai Selako (sekarang nama Kecamatan di Kabupaten sambas). Keyakinan ini selain berasal dari penelitian Simon Takdir (2006), juga dari hasil wawancara Kristianus Atok dengan sejumlah informan baik yang berasal dari Sasak, Biawak (Malaysia), Lundu dan Paon. Semua informan dengan tegas mengatakan bahwa nenek moyang mereka berasal dari Sarinokong (muara sungai Selako).

Tempat ini sekarang dikenal sebagai Selakau Tua. Bukti adanya pemukiman di daerah Sarinokng ini diperoleh dari cerita lisan yang selalu disampaikan oleh cerita orang tua secara turun-temurun. Selain itu disekitar daerah ini masih ditemukan pohon buah-buahan yang sudah tua, misalnya pohon durian, cempedak, asam kalimantan, dan lain-lain serta tempat pemujaan (tempat keramat) yang disebut Padagi/Panyugu yang sudah tidak terurus, pecah-pecahan keramik yang tersebar dilokasi bekas bantang, tepian mandi dan tempat keramat. Tambahan pula, dilokasi bukit Sarinokng ini ditemukan sebuah Nekara pada bulan Mei 1991 yang kini di simpan di Museum Negri Pontianak. Mckinnon (thn 1991) menyatakan bahwa:
“finds of sherds of coarse ‘prehistoric’ paddlemarked and basket-impressed earthenware in and around an area of white sand at the foot of bukit selindung maybe an indication of an early settlement in the area, though not necessarily one with any connection with drums-the criteria for such a settlement site would appear to be met-an area of firm dry land upstream from the coast but with riverine access to the sea, with a source of potable water (the stream from the hill) and at one time abundance of building materials and food resources-estuarine fish, shell fish and other equatic life.”



Menurut Simon Takdir Setelah beberapa lama tinggal di Sarinokng dan Pulo Nangko, beberapa orang dari mereka berusaha pindah mencari daerah baru. Perpindahan ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain, atas kemauan sendiri karena lokasi ladang yang sudah terbatas, ada juga yang karena konflik dalam komunitas hasil pengaruh luar. Sejumlah informan di lokasi ini mengatakan bahwa orang Dayak tinggal disini sekitar 6-7 generasi . Hal ini diperkuat dengan adanya keramat dilokasi ini yang masih dapat dilihat hingga sekarang. 


Dari Sarinokng ini ada kelompok yang pindah ke Pemangkat. Kelompok ini dipimpin oleh Ne’ Mangkat. Menurut cerita Pemangkat berasal dari nama pemimpin kelompok ini . kelompok inilah yang pertama kali membuka daerah pemangkat sekarang. Keturunan kelompok ini selanjutnya ada yang pindah dengan menulusuri sungai Sabangko hingga ke daerah yang sekarang disebut Paranyo (dalam bahasa Melayu: Pelanjau).Mereka mendirikan bantang (Rumah panjang) mereka di sini.


Kelompok lainnya mudik ke hulu melalui sungai Bantanan, mereka berdiam di Tabing Daya (17 km dari Sekura sekarang), kemudian menyebar dengan mudik lagi di Kuta lama ( dekat pasar Galing sekarang), selanjutnya ada yang mudik lagi ke Jaranang (sungai ano sekarang), terus mudik lagi di Bapantang Batu Itapm, di Batu Itapm inilah mereka lama menetap bahkan sampai sekarang . Generasi dari Batu Itapm ini kemudian menyebar sampai kedaerah distrik Lundu Malaysia.


Di Malaysia sekarang mereka menempati 24 kampung dengan populasi 9.558 jiwa (JKKP, Desember 2007). Umumnya orang di Biawak, Rukapm dan Paon mengetahui bahwa nenek moyang mereka berasal dari Indonesia tepatnya Batu Itapm di Kecamatan Sajingan Besar sekarang. Di Malaysia, Dayak Salako dimasukan ke dalam rumpun Dayak Bidayuh.


Di setiap tempat yang didiami, paling kurang nenek moyang orang Selako tinggal sekitar 3 sampai 4 generasi sebelum ada yang bermigrasi. Generasi yang bertahan di Sarinokng, Tabing Daya dan Kuta Lama telah memeluk agama Islam dan menyebut dirinya Malayu. Keyakinan ini berasal dari temuan bahwa sejumlah orang generasi tua didaerah ini walaupun sudah beragama Islam tetap menyebut bahwa kakek dan nenek mereka dulu adalah orang Darat (Dayak), bahkan ada yang mengatakan Ayah dan Ibu mereka adalah orang Darat (Dayak).


Beberapa kelompok pindah lagi dengan menelusuri hulu sungai Salako. Ada yang menelusuri sungai Sangokng dan naik di Nek Balo, terus ke Nek Date’Potekng, ajintotn, ango, Pakunan, Samarek, Pasi dan seterusnya. Namun ada juga yang naik di Bariakak dan terus ke Sahowo’Bagak, Pasar, Sanorekng, Ranto, Sakong dan sebagainya. Orang Saopo asalnya orang Bagak. 


Selanjutnya, ada yang terus mudik dan naik di Timawokng Abo’ dan pindah ke Puaje. Orang Bantang Sahowo’ pernah pindah ke Puaje. Perjalanan menelusuri sungai Selako yang berhulu di Bukit Bawokng (gunung Bawang) telah mengatur kelompok orang Dayak Salako yang lain ke Lao, daerah Serukam. dari sini menyebar ke daerah Sawak dan Gajekng serta Pakana dan sekitarnya. 


Wilayah lainya adalah Garantukng Sakawokng (Puaje,Pasar/Pak Kucing, Sanorekng, Pareto’/Saopo, Bagaksahowo, Nyarongkop/Ne’Usur/Kamar, Potekng/ Pajintotn, dan Paranyo).dan Sango Sakawokng (Sango, Gare, Pakunam, Pasi, Sakong, Ranto) . Batas Garantukng sakawokng dan Sango Sakawokng adalah Pentek (Tirtayasa). batas Garantukng Sakawokng dengan Sawak Hilir adalah kampung Puaje (jembatan dekat simpang Monterado).


Ada kelompok lain lagi yang berasal dari Lao pindah hingga Pakana (Karangan). ini nenek Moyang orang Salako yang menurut mereka yang berbahasa ba’ahe dan banana’. Selanjutnya terjadi penyebaran ke berbagai wilayah di kabupaten Pontianak dan Landak dengan berbagai macam isolek (dialek dalam bahasa sarumpun).

Penyebaran Dayak Salako di Pulau KalimantanMereka yang berdiam di Pakana sekarang umumnya beragama Islam tetapi masih menyebut diri mereka Dayak dan mereka masih mempraktekan budaya Dayak. Bahkan beberapa diantaranya ada yang memelihara babi walaupun sudah tidak memakannya lagi. Diyakini bahwa di pakana ini pada masa lalu ada semacam pusat pemerintahan dengan penduduk yang cukup ramai. Disini terjadi infiltrasi pengajaran agama islam, mereka yang menerima agama islam tetap bertahan tetapi yang tidak menerima memilih pergi migrasi ketempat-tempat lainnya. Selain itu di Pakana inilah diyakini pula sebagai puncak migrasi orang dayak Selako yang dikemudian hari suku ini berkembang kedalam berbagai dialeg bahasa. Sebagaimana diketahui bahwa dialeg orang selako meliputi badameo, ba-ahe, ba-jare, ba-nana’ ba-ngape.


Tentang perubahan dialeg bahasa ini, kemungkinan disebabkan oleh adaptasi terhadap lingkungan yang selalu berubah. Adaptasi merupakan perilaku responsive manusia terhadap perubahan-perubahan lingkungannya yang memungkinkan mereka dapat menata system-sistem tertentu bagi tindakan atau tingkah lakunya agar dapat menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang ada. Perilaku tersebut berkaitan dengan kebutuhan hidup, setelah sebelumnya melewati keadaan-keadaan tertentu dan kemudian membangun suatu strategi serta keputusan tertentu untuk menghadapi keadaan-keadaan selanjutnya. Dengan demikian, adaptasi merupakan suatu strategi yang digunakan oleh manusia dalam masa hidupnya untuk mengantisipasi perubahan lingkungan, baik fisik maupun sosial.

By: Ratih Kusrini 

Tidak ada komentar:

Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya
+Email : raditmananta@gmail.com
+Twitter : @raditmananta

Tata Tertib Berkomentar di blog misterpangalayo:

1. Gunakan Gaya Tulisan yang Biasa-biasa Saja
2. Tidak Melakukan Komentar yang Sama Disetiap Postingan
3. Berkomentar Mengandung Unsur Sara Tidak di Anjurkan

Diberdayakan oleh Blogger.