Singinca'an: Permainan Anak-Anak Sambas Tempo Doeloe

anak Bantang Dara Irakng - Sambas

sambas-borneo.blogspot.com - Singinca'an adalah suatu bentuk permainan biak kaccik (anak sambas) yang berusaha meniru aktifitas sosial bermasyarakat orang dewasa. Jenis permainan ini biasanya dimainkan oleh anak seumuran 4-10 tahun. Aktifitas / kegiatan yang sering ditiru ini biasanya adalah pesta (adat) perkawinan,  kecemasan dan kebahagian detik-detik saat beranak (melahirkan), perkampungan mini (rumah-rumahan/dangau), main masak-memasak, (adat) upacara kematian, hingga main hantu-hantuan dan cerita kerajaan (cerita rakyat). 

Singinca'an lebih cendrung mirip sandiwara ala anak sambas karena dalam permainan ini semua anak berbagi peran tokoh dan karakter yang (seolah-olah). Singinca'an biasa juga disebut beajal dalam masyarakat sambas (beajal = bermain). Tema yang diangkat dalam permainan ini biasanya juga diadopsi dari film-film yang ditonton di TV, seperti cerita perang kemerdekaan, malin kundang, dan kisah heroik seorang pahlawan dalam menumpas kejahatan (zorro, koboi, superboy, superman, ultraman, satria baja hitam,  gaban, power rangers, ninja dll). 

Permainan singinca'an ala kami waktu kecil dahulu selain kelihaian dalam memerankan karakter seorang tokoh, assesoris dan perlengkapan pendukung lainnya juga diupayakan semaksimal mungkin. Dalam memainkan cerita perang kemerdekann melawan penjajahan jepang misalnya, tentulah pemain yang berperan sebagai penjajah jepang harus memakai topi yang panjang pada bagian belakangnya sebagai ciri khas, begitu juga dalam cerita zorro sang anak yang memainkan peran ini biasanya memakai assesoris seperti pedang-pedangan, kuda-kudaan, topi dan ikat kepala ala zorro.


Beajal Penganten (Main Pengantin-Pengantinan)
 
Dare Sambas (sumber: google.com)
Secara historis sambas termasuk dalam rumpun melayu sehingga budaya meniru sangat kental dalam masyarakat sambas (bahasa sambasnye ullok-ullok'an). Hal ini bisa terlihat dalam permainan anak-anaknya, karena kagum akan kecantikan pengantin misalnya, maka anak-anak sambas berusaha meniru hal tersebut dalam sebuah permainan. Lumrah sekali jika main penganten-pengantenan ala kami pada waktu kecil dahulu selalu dilakukan saat musim kawinan di kampung.

Permainan ini biasanya suka dimainkan oleh anak-anak yang belum masuk sekolah (anak ingusan). Dalam permainan ini dua orang anak di pilih menjadi pengantinnya dan yang lain bertindak sebagai pak lebai atau pengulu, orang tua / mertua mempelai, pasukan berarak,  fotografer, pemain musik (tanjidor), dan rakyat jelata. Inti dari permainan ini adalah berarak, yaitu saat menggiring pengantin menuju kediamannya. Sebelum prosesi berarak dilakukan masing-masing anak saling mempercantik diri dengan bahan dan perlengkapan seadanya.

Proses make up ini tergolong cukup lama karena bahan-bahan yang dugunakan  harus dicari dan dikumpulkan terlebih dahulu yaitu dari rerumputan, dedaunan dan bunga-bungaan yang banyak tersedia di semak-semak (rampo'k jeradak) sekitar kampung. Yang paling mencolok make-up nya tentulah sang pegantin yang biasanya dihiasi dengan rumput daun seribu di kepala kadang juga diselipi bulu ayam. 

Bunga-bungan juga tertata rapi diatas kepala si pengantin perempuan, selain itu assesoris lainnya juga dibuat sedemikiaan rupa untuk mempercantiknya. Antingnya adalah buah pohon akasia dan gelangnya terbuat dari anyaman daun kelapa sedangkan kalungnya dibuat dari daun seribu yang dililikan sedemikian rupa ditambah beberapa bunga berwarna-warni, untuk selendangnya juga dibuat dari berbagai jenis rerumputan menjalar dan daun seribu ditambah beberapa hiasan bunga pula. Sedangkan pengantin pria harus dihias tanpa memakai baju dan dihiasi dengan beberapa assesoris sepert topi (songko'k) yang terbuat dari daun ulap (kerambai) di tambah lilitan rumput daun seribu dan diselipkan beberapa bulu ayam, bulu itik, bulu angsa maupun bulu bianatang lainnya. Selendang juga dibuat seperti pengantin wanita sedangkan sejata atau kerisnya adalah kayu yang diselipkan dipinggang atau dipengang sang pengantin. 

Untuk pengantin pria ini biasa juga ditambah assesoris hiasan celana berupa daun pisang yang diracik berumbai-rumbai dan diikatkan di pinggang. Begitulah kira-kira deskripsi pengantin versi anak-anak pada permainan kami dahulu. Apakah kawan-kawan bisa membayangkan bagaimana wujudnya??? yah seperti orang pedalaman tentunya,,,, he.Untuk pemeran tambahan seperti pak lebai, rakyat jelata dan lain sebagainya juga dihias sedemikian rupa tetapi tak semencolok sang pengantin.

Setelah semua dinyatakan siap maka prosesi berarak dimulai dengan do'a antah berantah dari seorang yang berperan sebagai pak lebai. Pep...pep..pep..badum...badum...badum suara musik dari mulut sang pemeran tukang musik dan kedua penganten diarak ketempat yang telah direntukan lalu disandingkan. Sang fotografer sibuk memotret pret...pret dengan siku tangannya untuk mengabadikan gambar, hee.

Begitulah kira-kira permainan singinca'an ini dimainkan dan diakhiri dengan memuji mengolok (mengejek) kecantikan sang pengantin lalu kejar-kejaran dan merusak perhiasan yang susah-susah dibuat tadi.

Maing Beranak-Beranakkan

Pada dasarnya permaian ini tidak jauh berbeda dengan maing penganten-pengantenan cuma temanya saja yang berbeda yaitu bercerita tentang seorang ibu yang kebelet mau beranak (melahirkan). Pemeran cerita adalah seorang ibu bunting (hamil) dan suaminya, bidan kampung, tetangga dan lain sebagainya. Permainan ini biasanya dilakukan dirumah atau dalam kamar tidur. Seorang ibu yang berperan sebagai orang  bunting bajunya diganjal dengan bantal atau balon agar mirip orang hamil beneran. Inti dari permainan ini adalah tentang kepanikan semua pemain dalam membantu prosesi menolong ibu yang kebelet mau beranak. Ending cerita kadang bahagia kadang juga tentang kesedihan.

Maing Hantu-Hantuan (Beajal Antu)

Singinca'an variasi ini juga dilakukan didalam rumah atau kamar tidur salah satu anak dan bercerita tentang orang mati (meninggal) yang hidup kembali menjadi hantu dan meneror orang yang masih hidup. Permainan ini dimulai dengan ada seorang yang berperan sebagai orang yang meninggal dunia dan harus segera dilakukan acara (ritual/adat) kematian. Seluruh warga kampung (pemain) turut berbela sungkawa dan bersedih atas berita itu lalu nyelawat (menjenguk) orang meninggal tersebut. Detik-detik dan penyebab kematian diceritakan oleh pihak keluarga dengan sedih sambil menguraikan air mata. 

Setelah mayat di tutupi dengan selembar kain panjang dan seolah-olah  telah dikuburkan lalu sebuah kejadian aneh menghebohkan  kampung yaitu mayat orang yang mati tersebut menghilang. Saat itu juga kabar tersebut meluas dan membuat suasana kampung menjadi mencekam karena di isu kan bahwa mayat tersebut hidup kembali dan menjadi hantu bangkit, pocong, sundel bolong, kuntilanak, tuyul, hantu kambe'k, hantu pak saloi, vampire maupun hantu-hantu lainnya. 

Ketakutan pemain sangat terasa disini karena sang hantu tersebut selalu meneror orang yang pernah berbuat jahat terhadapnya, hantu tersebut ingin membalas dendam. Semua  pemain disarankan agar tidak bersendirian terutama saat malam hari. Teng...teng...teng.... suara jam lonceng berbunyi menunjukkan jam 12 malam dan hantu tersebut keluar dari persembunyiannya. Semua anak disini berkumpul karena takut dan berlarian kesegala arah saat hantu yang mengerikan itu menampakkan diri. 

Tidak jarang dalam permainan banyak anak yang berteriak histeris bahkan menagis gak karuan karena saking takutnya. Sang hantu kadang melompat-lompat dan terbungkus kain seperti hantu pocong atau bertaring panjang dan melompat-lompat kaku dengan tangan terbujur kaku kedepan seperti vampire cina kadang juga ketawa mengakak ala kuntilanak atau mengelurkan suara-suara menakutkan ala hantu lainnya. 

Anak yang berhasil ditangkap dan digigit sang hantu biasanya berubah menjadi hantu pula seperi kisah zombie atau vampire. Begitulah permainan ini dimainkan hingga semua anak menjadi hantu atau ada sebagian anak yang tak terkontrol dan menangis histeris seperti orang kesurupan. Lalu anak yang paling besar menenangkan keadaan dan memberi nasehat bahwa dalam hidup ini kita tidak boleh berbuat jahat terhadap orang lain sebab hantunya akan selalu meneror dan menakut-nakuti mereka.

Beajal Rumah-Rumahan "Dangau"

Permainan ini dilakukan dengan membangun rumah-rumahan yang disebut "dangau" oleh sekelompok anak-anak sambas. Saking banyaknya dangau yang dibuat oleh anak-anak sehingga dalam main rumah-rumahan ala ini lebih mirip perkampungan mini. Semua dangau dibuat sendiri oleh anak dengan bahan yang tersedia disekitar kampung seperti abek atau aor sallat (bambu kecil) atau kayu-kayu lain untuk tiang dan pondasi, daun pisang, atap bekas atau daun ilalang untuk atap dangau dan ujung aor sallat, daun pisang bahkan atap bekas untuk dindingnya. 

Jika dikampung kami ada orang mengganti atap rumahnya kami paling senang mengumpulkan atap bekas yang tidak dipakai tersebut untuk beajal, bahkan kadang sampai berebutan. Pada dasarnya rumah-rumah warga dikampungku pada waktu kami kecil dahulu hampir seluruhnya menggunakan atap daun sagu (rumbia) dan harus diganti minimal setahun sampai dua tahun sekali tidak seperti sekarang yang hampir seratus persen menggunakan atap seng.

Dangau ini biasanya di bangun di sebuah tanah kosong yang tidak di garap pemiliknya  namun kadang juga dibangun disamping rumah penduduk. Pertama pondasi dangau dibuat dengan menancapkan kayu kuat atau abek yang besar untuk tiangnya sebanyak 4-9 buah sebagai tiangnya. Lalu dipasang kayu melintang di atas tiang-tiang tersebut dan diikat dengan tali dari pelepah pisang yang sudah kering atau tali-tali lainya. Setelah tiang-tiang tersebut terhubung satu sama lain dan kerangka dangau sudah terbentuk lalu dibuat bumbungan dangau dan tempat mengikat atap dangau. Kemudian atap dipasang begitu juga dengan dindingnya.Untuk lantai biasanya disusun papan bekas atau pelepah sagu dan dialasi denga tikar pandan atau daun pisang dan dedaunan lebar lainnya.

Dangau yang beratap daun pisang menurut kami adalah rumah orang paling miskin yang selalu kesusahan, dan dangau yang beratapkan rumbia baik itu atap rumbia bekas maupun dibuatnya sendiri adalah rumah orang yang berekonomi menengah. Sedangkan dangau yang berdindingkan dan beratapkan rumbia serta memiliki bawah rumah adalah rumah mewah miliknya orang kaya. Sedangkan dangau unik yang beratapkan daun lalang (ilalang) kami sebut rumah pendatang karena lebih mirip rumahnya orang irian (papua).

Dangau kami pada umumnya terdiri dari 4 ruangan utama yaitu : Pertama uang tamu untuk tempat teman sepermainana yang ingin bertamu (bhs sambasnya maing); Yang kedua adalah ruang serbaguna untuk tempat santai, menonton tv, atau tempat makan jika di dapur tidak memungkinkan, Ruang selanjutnya adalah kamar tidur yang bisa ditempati oleh 2 orang dengan syarat tidak membujurkan kaki, hee. Ruangan terahir adalah dapur untuk tempat memasak dan menyimpan pecah belah. Kira-kira ukuran dangau kami sekitar 2x4 meter dengan tinggi tidak mencapai 1,2 m. Jadi kalau mau keluar masuk didangau kami tidak berdiri lho, hee harap maklum nanamya juga rumah-rumahan.

Setelah dangau selesai dibangun lalu semua anak yang bermain mencari dan membuat bahan-bahan untuk memasak. Karena makanan dalam permainan seluruhnya boongan maka peralatannya juga boongan, untuk piring, mangkuk, sendok dan pecah belah lainnya misalnya menggunakan bahan dari tempurung kelapa,  kaleng bekas (canting), bekas tempat minyak rambut, bekas tempat bedak, dan media-media bekas lainnya kadang juga barang-barang pecah belah ini dibuat sendiri dengan tanah liat (tanah kuning) yang dibentuk dan dikeringkan. 

Untuk sayur mayurnya adalah dari pakis-pakisan dan dadaunan muda (pucuk) rerumputan/pepohonan,  bawangnya adalah siung kumpai air dan mie nya adalah empulur pakis-pakisan yang telah ditumbuk. Sedangkan untuk makanan pokok (nasi) dibuat dari tanah kering yang dihaluskan (ditumbuk). Tanah kering ini ditumbuk dalam sebuah tempurung kelapa dan dihaluskan dengan alu (bahasa sambasnya alo'k) dari baterai bekas ataupun kayu bulat lainnya yang mirip alu. Tanah yang halus seperti debu itulah yang kami sebut beras dalam permainan ini. Jika musim penghujan turun maka tanah kering untuk bahan dasar beras ini kami dapatkan dari sarang serangga yang banyak terdapat didalam rumah (biasa kami sebut sarang angkup-angkup).

Setelah semua bahan dan perlengkapan mencukupi ritual yang dilakukan adalah meracik dan menghidangkan makanan. Untuk membuat sayur mayurnya, dedaunan muda (pucuk) rerumputan tadi cukup dipotong-potong halus lalu di taruh dalam sebuah media lalu siap hidangkan karena sudah kami anggap matang. Sedangkan nasinya adalah tanah yang telah dihaluskan tadi dan beri air sedikit. Setelah makanan ini dihidangkan maka si emak mencari dan mengumpulkan suami dan anak-anaknya untuk makan bersama. Karena ini bersifat boongan maka  makannya pun boongan, hee.

Dalam permainan ini ada juga yang berperan sebagai pedagang lho, yaitu seorang yang menjual barang-barang keperluan sehari-hari kepada pembeli. Kesibukan pemeran pedagang dalam permainan ini adalah mencari dan mengumpulakn sayur-mayur, membuat beras dan membuat barang pecah-belah dari tanah liat. Sedangkan pembeli sibuk mengumpulkan dan mencari uang sebagai alat transaksi. Namanya juga permainan maka duit / uangnya juga main-main yaitu daun nangka. Untuk daun nagka yang paling besar biasanya kami nilai seharga Rp. 5000 dan yang berukuran sedang seharga Rp. 1000 sedangkan yang kecil seharaga 500 rupiah. Untuk daun nagka yang kuning yaitu daun nangka yang sudah jatuh dengan sendirinya ketanah kami nilai seharga Rp 100 kadang juga kami anggap uang lama jadi tidak laku.

Dalam permainan ini tidak jarang ada sebagian anak yang membawa makanan beneran yaitu sejenis rujak yang biasa kami sebut ratahan. Ratahan favorit kami adalah buah temabal yaitu buyung buah nagka yang berbulu karena gagal menjadi buah besar. Temabal ini terasa agak kelat dan rada-rada manis, jika ditambah adonan bumbu dari kecap manis, kecap asin, asam jeruk dan cabe maka temabal yang diiris tipis, tipis ini menjadi ratahan yang sangat ma'nyos di kampung mini kami. Temabal kami kumpulkan sambil memetik daunnya yang berfungsi sebagai duit dalam permainan kami. Selain itu buah-buahan dari tumbuhan liar juga segaja kami kumpulkan untuk dimakan disini seperti rattup, takkang, buah kemenyan, buah bunga pasak, buah jambu rekan, selimapu dan lain sebagainya. Kadang juga batang rumput mallai dan akar lalang juga kami makan disini yang biasa kami sebut sebagai tebu. 

Adapun barang-barang ini kami dapat kan sambil mengumpulkan barang-barang kebutuhan pokok dalam permainan dangau yang telah saya uraikan diatas. Tidak jarang juga kadang ada sebagian anak yang sengaja membawa berbagai jenis buah-buahan dari rumahnya untuk dimakan disini seperti jambu biji, jambu air, jambu bol, jambu botol, ceremai, mentimun, nenas, rambutan, kelapa muda, dan lain sebagainya. Termasuk juga berbagai jenis kue-kuean juga diboyong dari rumah untuk dimakan bersama disini seperti sagon, amping, cance, apam, ukal pisang, ukal inti, dan banyak lagi deh hingga nasi goreng (biasa kami sebut nasi aro'k) juga suka dibawa ke dangau ini.

Permainan ini dimainakan cukup lama kadang berminggu-minggu bahkan mencapai sebulanan. Dangau kami dibuat tidak sembarangan sebab itu kokoh dan mampu bertahan paling cepat seminggu. Proses membuatnya saja kadang memakan waktu lebih dari sehari. Permainan ini biasaya berahir setelah dangau kami rusak dimakan usia atau rusak diterjang badai. Jika hujan turun misalnya kami paling suka berada di dangau buatan kami ini, dengan alasan pertama untuk mengamankan beras, tikar pandan dan barang-barang lainnya agar tidak basah, yang kedua untuk memeriksa apakah atapnya ada yang bocor dan yang terahir untuk menguji kekokohannya. Hal ini tidah kami lakukan jika hujan turun disertai angin kencang sebab biasanya dangau kami tidak mampu bertahan. Permainan ini juga berahir karena dangau kami dirusak orang tak bertanggung jawab dengan alasan merusak keindahan pemandangan atau terjadi perubahan musim permainan. Hee pada wakru kecil dahulu permainan kami ada musimnya lho.. Jika hal ini terjadi maka kami dengan senang hati bersama-sama merusak dangau tersebut.

Beajal Memasak

Dalam singinca'an memasak versi ini kami lakukan dengan memasak sungguhan. Yaitu memasak nasi dan segala lauk pauknya. Kayu bakar, tempat memasak, dan barang-barang untuk dimasak tentu penting sebelum melakukan permainan ini. Pertama kayu bakar biasa kami kumpulkan dari kekayuan kering (ranting kayu) dan dipotong kecil-kecil. Untuk tungku memasak biasa kami buat dari 3-4 buah batu atau pelepah sagu muda yang ditancapkan ditanah, kadang juga kompor mini segaja kami buat dengan menanam sebuah kaleng susu bekas lalu diisi minyak tanah dan sedikit potongan kayu yang kecil-kecil. Media memasak kami juga menggunakan kaleng bekas namun kadang juga peralatan dapur orang tua dirumah juga terpaksa diboyong demi permainan ini seperti kuali kecil dan kenceng mini. Adapun barang-barang untuk dimasak seperti bumbu dan beras sepenuhnya kami boyong dari rumah kecuali sayur-mayurnya kami cari sendiri di sekitar kampung sebab kangkung dan berbagai jenis pakis-pakisan banyak tumbuh liar di daerah kami.

Permainan ini biasanya kami mainkan di sebuah tempat yang jauh dari pantauan orang tua kadang juga dangau kami tadi kami jadikan tempat memainkan permainan ini. Sebenarnya orang tua kami tidak pernah merestui permainan ini sebab itulah kami sembunyi-sembunyian dalam memainkannya. Lumrah sekali jika orang tua melarang permainan ini sebab rawan terjadi kecelakaan dan kebakaran selain itu barang-barang dapur orang tua seperti garam, micin, cabe dsb menjadi cepat habis dan pearalatan dapur orang tua jadi banyak yang rusak bahkan hilang. Tetapi jika sudah musimnya kami tidak peduli lagi dengan bahaya dan segala ancaman. Permainan ini biasanya berahir setelah lokasi main kami diketahui orang tua lalu dirusak atau terjadi kecelakaan seperti kebakaran semak belukar. Satu kampung bisa repot akibat ulah nekat kami ini... hee

Singincaan Lainnya

Dalam singincaan variasi ini tidak populer buat kami dan bersifat angin-anginan. Seperti main perang-perangan misalnya dipastikan tidak akan bertahan lama musim mainnya keculai perang-perangan yang mengeluarkan peluru seperti sumpit, pelantak, ketapel. Singincaan perang-perangan yang saya maksud disini adalah perang-perangan yang hanya menggunakan senapan dari bemban, pelepah pisang atau gumbar tanpa di lengkapi dengan karet dan peluru yang bisa melukai.




*(sumber: http://biacksambas.blogspot.com/)

No comments:

Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya
+Email : raditmananta@gmail.com
+Twitter : @raditmananta

Tata Tertib Berkomentar di blog misterpangalayo:

1. Gunakan Gaya Tulisan yang Biasa-biasa Saja
2. Tidak Melakukan Komentar yang Sama Disetiap Postingan
3. Berkomentar Mengandung Unsur Sara Tidak di Anjurkan

Powered by Blogger.