Asal Usul Dayak Selako (Selakau)


A. Asal Usul Suku Dayak di Borneo

Orang Dayak atau Melayu Tua (Proto Melayu) adalah penduduk asli yang mendiami Pulau Kalimantan yang telah berbaur dengan penduduk asli sebelum mereka yakni kelompok Weddoide dan Negrito yang telah mendiami kepulauan Borneo sejak zaman prasejarah dan kebudayaan mereka dinamakan kebudayaan Paleolitikum, kebudayaan batu tua, karena mereka belum mengenal pemakaian alat dari logam. Namun begitu, penduduk lama ini telah lenyap sama sekali di Kalimantan (Loebis, 1972).

misterpangalayo.com - Dari teori Collins, Stanley, Simon dan Wonojwasito diatas, saya menduga ada terjadi perkawinan silang antara kelompok Weddoide dan Negrito dengan kelompok migrant yang baru tiba dari Taiwan ini. Hasil perkawinan silang ini, kemudian dikenal sebagai bangsa Austronesia, yang bercirikan mata terlihat sipit, agak pendek, kulit kuning langsat, dan sangat terampil memainkan pedang (Takdir;2003).

Menurut Dr.Fridolin Ukur, penduduk pribumi Kalimantan yang dikenal dengan nama “Dayak” berasal dari Tiongkok bagian selatan, atau tepatnya Provinsi Yunan (d/h. Yunnan, demikian juga selanjutnya) yang ikut dengan arus migrasi besar-besaran antara tahun 3.000-5.000 SM. Demikian dikutip oleh Ali Bastian. (Bastian,Ali, Penduduk Asli Kalimantan dari Tiongkok Selatan? Harian Berita Yuda, 23 September 1991).

Hal ini bermula akibat dari adanya bencana alam, perang, dan factor lainnya sehingga orang Melayu banyak menyebar dari Asia Selatan ke Asia Tenggara sehingga sebagian diantara mereka menetap di kepulauan Nusantara terutama Pulau Borneo atau yang lebih dikenal dengan nama Kalimantan. Penyebaran mereka terbagi menjadi dua gelombang yaitu Proto dan Deutro yang berasal dari Provinsi Yunan-Cina Selatan.

Orang Melayu yang berimigrasi secara besar-besaran dalam kelmpok kecil pada gelombang pertama disebut Melayu Tua (Proto Melayu) yang diperkirakan terjadi sekitar 3000-1500 SM. Menurut H.TH. Fisher, migrasi dari asia terjadi pada fase pertama zaman Tretier. Benua Asia dan pulau Kalimantan merupakan bagian nusantara yang masih menyatu, yang memungkinkan ras Mongoloid dari Asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut pegunungan “Muller-Schwaner”.

Penyebaran gelombang kedua yang disebut Melayu Muda (Deutro Melayu) terjadi sekitar 200-300 tahun SM. “Pada awal abad ke -2 SM, sebagaimana tercatat dalam buku pelajaran Sejarah Indonesia, terjadi migrasi nenek moyang orang Indonesia ke kepulauan Nusanatara ini, Migrasi bangsa ini berlangsung lama sekali dan dalam gelombang-gelombang pada waktu yang berlainan. Tanah asal mereka adalah Tiongkok Selatan (Yunnan). Dari sana mereka berjalan ke pantai barat Hindia Belakang, terus ke selatan dan akhitnya tiba di Indonesia yang sekarang” (Saripin, S., Sejarah Kesenian Indonesia, Jakarta: Pratnya Paramita, 1960, hlm.21).

Penyebaran orang Melayu secara bertahap ini Melayu Muda dan Melayu Tua membaur dan atau sebagian daripadanya terdesak untuk hidup di pinggiran. Di Kalimantan itu sendiri pemukiman mereka hanyalah di pesisir pantai dan hilir sungai, di yakini di pedalaman Kalimantan masih ada suku asli yang hampir punah. Terlepas dari berbagai perbedaan pendapat, banyak cendekiawan sepakat bahwa baik Melayu Tua maupun Melayu Muda berasal dari bagian selatan daratan Asia. Argumen ini telah terbukti dengan hasil studi antropologi, arkelologi, peradatan, linguistik dsb. Dan dari semua itu dapat dipastikan bahwa semuanya agama aslinya adalah Animisme. (Prof. Kong Yuanzhi, Silang Budaya Tiongkok Indonesia, hlm.2-4, BIP).

Dan pada saat itu juga telah berdirinya beberapa kerajaan yaitu kerajaan Nek Riuh ( Mbah Riuh ) , Kerajaan Bangkule Rajakng dan kerajaan bujakng nyangkok di bagian barat Kalimantan serta Panembahan Sambas yang menganut agama Hindu Kaharingan. Sebelum Islam datang ke Kalimantan tidak ada istilah kata Dayak dan Melayu yang kita kenal sekarang. Semua manusia penghuni pulau borneo merupakan manusia-manusia yang saling berkekerabatan dan bersaudara ( Bangsa Dayak ).

Islam ke borneo di sebarkan oleh orang-orang arab atau gujarat, namun mayoritas oleh orang melayu sumatra, karena itu oleh orang Dayak agama islam disebut agama melayu, istilah islam sendiri jaman dahulu tidak sepopuler istilah " agama melayu". Sejak itulah setiap orang Dayak pesisir yang masuk islam disebut masuk melayu atau jadi orang melayu. namun oleh orang Dayak pedalaman, saudara mereka yang masuk islam disebut sebagai " senganan" di kalimantan bagian barat dan "halog" di kalimantan bagian timur. Dikarenakan adat budaya Dayak umumnya bertentangan dengan agama islam maka hal ini membuat masyarakat Dayak pesisir yang telah menjadi islam tadi meninggalkannya dan mengadopsi adat budaya para pendahwah islam ( orang melayu) namun tidaklah semua adat aslinya di tinggalkan, cukup banyak juga adat asli ( adat budaya Dayak ) yang di modifikasi agar selaras dengan islam, seperti tepung tawar, betangas, tumpang seribu dan lain-lain. selain masyarakat Dayak pesisir pantai, masyarakat Dayak yang tinggal di kota-kota kerajaan juga akhirnya masuk islam dengan alasan mengikuti jejak Rajanya. maka mulailah adat budaya melayu merasuki adat budaya Dayak dalam keraton-keraton.

Pada umumnya kerajaan-kerajaan di kalimantan di dirikan oleh orang-orang yang berdarah daging Dayak asli seperti pada kerajaan mempawah oleh Patih Gumantar, kerajaan Kutai ( Kerajaan Dayak Tunjung - Dayak Benuaq ) oleh Kundung atau Kudungga dan kerajaan-kerajaan lain. sementara kerajaan-kerajaan yang di dirikan oleh manusia-manusia yang berdarah daging blasteran Dayak dengan pendatang seperti kerajaan pontianak ( blasteran Dayak dan arab ). kerajaan sanggau, matan, ketapang dan sintang ( oleh blasteran Dayak Jawa ). sejak dahulu dalam pergaulannya dengan sesama suku Dayak dan dengan suku-suku luar kalimantan orang Dayak telah menggunakan bahasa melayu, hal ini terjadi mengingat suku dayak hampir setiap sub sukunya mempunyai bahasa sendiri-sendiri. Hal ini tentu menyulitkan dalam berkomunikasi, tentunya karena alasan semacam ini jugalah yang menyebabkan bahasa melayu dijadikan bahasa persatuan Indonesia. Bahasa-bahasa melayu di kalimantan dikarenakan seluruh manusia penuturnya mempunyai bahasa yang berbeda ( Manusia Dayak ) meyebabkan bahasa melayu tersebut juga mempunyai banyak versi sesuai daerah asalnya, misal di daerah sanggau kapuas dikarenakan bunyi vokal bahasa Dayak di daerah tersebut kebanyakan berbunyi vokal " o " maka bahasa melayunya juga cenderung bervokal " O " misal kata ada akan di ucapkan menjadi ado, kata Ngapa ( Mengapa ) di ucapkan menjadi ngapo dan lain sebagainya. sementara di daerah kapuas hulu, sintang dan ketapang bahasa melayunya sangat mendekati bahasa Dayak, cukup banyak istilah dalam bahasa Dayak asli yang masih di pakai seperti Nuan, sidak dan lain-lain. Di bagian barat kalbar ada istilah Terigas yang asalnya dari kata Tarigas dan istilah-istilah lainnya. *(sumber wikipedia)

Di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan, manusia asli Kalimantan yang menganut agama Islam tidak lagi menyebut dirinya orang Dayak tetapi Orang Melayu (seperti Sambas, Banjar, dll). Orang Dayak yang menganut agama Islam telah membaur dengan etnis pendatang (pembawa agama Islam) seperti Melayu Sumatera, Gujarat, dan Arab sehingga menjadi satu kesatuan etnis yaitu etnis Melayu. Karena Melayu itu sendiri adalah gabungan dari etnis Melayu, Dayak Islam-Tionghoa, Jawa, Gujarat, Arab, dan lainnya. Selain itu etnis Dayak yang menolak untuk masuk Islam akhirnya mereka pun semakin terdesak menyusuri sungai hingga hulu sungai dan semakin ke pedalaman, hingga membentuk pemukiman baru.

B. Kedatangan Nenek Moyang Dayak Selako

Peta perjalanan migrasi bangsa Austronesia dari Asia Selatan ke Asia Tenggara melalui Semenanjung Malaya. Dan ke Pulau Kalimantan melalui muara sungai Sambas dan Selako (Selakau). Kelompok yang memasuki sungai Sambas kemungkinan besar bermukim di kaki bukit Senujuh dikawasan sungai Sambas besar. Di kawasan ini sekitar tahun 1291 berdiri kerajaan Sambas (Ahmad dan Zaini, 1989) dengan rajanya tanpa bergelar Sultan (mungkin saja Kerajaan Hindu Ratu Sepudak) dan rakyatnya masih menganut agama tradisonal dan Hindu Kaharingan. Menurut Simon Takdir (2007) Kelompok Austronesia yang bermukim di kaki bukit Senujuh ini, karena jumlahnya kecil, akhirnya hilang karena ditaklukkan dan berbaur dengan penduduk yang lebih dulu datang ke daerah itu. Pembauran ini melahirkan nenek moyang suku yang disebut suku Kanayatn.

dayak tempo dulu
Selanjutnya dalam jumlah besar kelompok Austronesia memasuki muara sungai Salako (Selakau) hingga ke sebuah bukit Sarinakng (bhs.melayu bukit Selindung) dan bermukim di daerah tersebut. Konon katanya kawasan Bukit Sarinakng/Sarinokng adalah pantai tetapi adanya proses alam maka timbul daratan rawa yang baru yang kita kenal sekarang dengan nama Selakau Muda (kota selakau sekarang). Sedangkan yang berada di Sarinakng bernama Selakau Tua ( Selako Tuha).

Kenapa disebut Selako ? ? ? Nama Salako itu sendiri mungkin berasal dari Saak Ako. Konon disana dulu banyak anjing hutan yang besar yang disebut asu’ ako (bhs.melayu : Asu’ / Aso’). Masyarakat sering mendengar salaknya baik siang maupun malam. Karena anjing hutan ini mengganggu kehidupan masyarakat, binatang ini dimusnahkan begitu saja oleh mereka. Orang Austronesia ini tidak mau makan anjing.

C. PENYEBARAN DAYAK SELAKO

Penyebaran manusia purba dapat ditelusuri melalui aliran sungai. Hal ini dimungkinkan, karena jaman dahulu, transportasi utama masyarakat adalah sungai. Earld, pedagang dari Singapura yang berkunjung pada sebuah koloni Cina di pantai barat Borneo tahun 1834 mengatakan, untuk masuk kepedalaman, mereka harus melalui sungai yang membentang luas dan dalam. Sungai-sungai tersebut bercabang-cabang (J.B.Wolters;1918;3).

Dayak Selako itu sendiri diyakini berasal dari daerah aliran Sungai Selako (Kabupaten Sambas), dan itu telah ditegaskan oleh masyarakat Selako di Sasak (Sajingan Besar-Indonesia) dan Kpg.Biawak (Lundu-Sarawak) bahwa dengan tegas menyatakan kalau nenek moyang mereka berasal dari Gunung Sarinakng (Selakau Tua).

anak sungai sambas
Menurut Simon Takdir (2006,…) Setelah beberapa lama tinggal di Sarinokng dan Pulo Nangko, beberapa orang dari mereka berusaha pindah mencari daerah baru. Perpindahan ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain, atas kemauan sendiri karena lokasi ladang yang sudah terbatas, ada juga yang karena konflik dalam komunitas hasil pengaruh luar. Kemungkinan besar migrasi orang-orang Sarinakng dilakukan secara berkelompok dan bergelombang.

Kelompok pertama menyusuri sungai Sebangkau dan menetap di Paranyo (bhs. Melayu; pelanjau) dan mereka mendirikan bantang (Rumah panjang) mereka di sini, sebagian kecil meneruskan perjalanan hingga dimuara sungai Pemangkat. Kelompok ini dipimpin oleh Ne’ Mangkat. Menurut cerita Pemangkat berasal dari nama pemimpin kelompok ini . kelompok inilah yang pertama kali membuka daerah pemangkat sekarang.

Kelompok kedua melakukan perjalanan dengan menyusuri sungai Bantanan, dan menetap di Tabing Daya (17 Km dari Sekura sekarang), kemudian menyebar lagi di Kuta Lama (dekat pasar Galing sekarang). Dari Kuta Lama, ada dua kelompok kecil yang memisahkan diri lagi dengan menyusuri Sungai Enau dan menetap di Jaranang (desa Sungai Enau sekarang). Sebuah kelompok lagi terus menyusuri sungai ke hulu dna menetap di Bapantang Batu Itapm (Batu Itapm sekarang). Di Batu Itapm inilah mereka lama menetap bahkan sampai sekarang. Generasi dari Batu Itapm ini kemudian menyebar sampai kedaerah distrik Lundu Malaysia. Di Malaysia sekarang mereka menempati 24 kampung dengan populasi 9.558 jiwa, antara lain kampong Rukapm, Biawak, Paon, dan lain-lain. Di Malaysia, Dayak Salako dimasukan ke dalam rumpun Dayak Bidayuh.

Informan mengatakan bahwa generasi yang bertahan di Sarinakng, Tabing Daya, Batu Itapm, Kuta Lama, Jaranang telah memeluk agama Islam dan menyebut dirinya Melayu. Keyakinan penulis ini berasal dari temuan bahwa sejumlah informan tua (70an tahun) didaerah ini walaupun sudah beragama Islam tetap menyebut bahwa kakek dan nenek mereka dulu adalah orang Darat (Dayak red), bahkan ada yang mengatakan Ayah dan Ibu mereka adalah orang Darat (Dayak red). “Pada umumnya, suku Dayak Salako dulunya lebih senang tinggal di bukit, termasuk juga suku lain termasuk suku Kanayatn sendiri. Jadi tidak tepat kalau ada penggolongan Dayak Bukit atau Dayak bukan Bukit. Orang Bukit juga terdapat di pegunungan Meratus, di Thailand, di Taiwan (suku Alisan), di Panatubo (Pilipina) dan sebagainya” (Simon;2003;17).

Beberapa kelompok pindah lagi dengan menelusuri hulu sungai Salako.Ada yang menelusuri sungai Sangokng dan naik di Nek Balo, terus ke Nek Date’Potekng, ajintotn, ango, Pakunan, Samarek, Pasi dan seterusnya. Namun ada juga yang naik di Bariakak dan terus ke Sahowo’Bagak, Pasar, Sanorekng, Ranto, Sakong dan sebagainya. Orang Saopo asalnya orang Bagak.

Selanjutnya, ada yang terus mudik dan naik di Timawokng Abo’ dan pindah ke Puaje. Orang Bantang Sahowo’ pernah pindah ke Puaje. Perjalanan menelusuri sungai Selako yang berhulu di Bukit Bawokng (gunung Bawang) telah mengatur kelompok orang Dayak Salako yang lain ke Lao, daerah Serukam. dari sini menyebar ke daerah Sawak dan Gajeknh serta Pakana dan sekitarnya. Wilayah lainya adalah Garantukng Sakawokng (Puaje,Pasar/Pak Kucing, Sanorekng, Pareto’/Saopo, Bagaksahowo, Nyarongkop/Ne’Usur/Kamar, Potekng/ Pajintotn, dan Paranyo).dan Sango Sakawokng (Sango, Gare, Pakunam, Pasi, Sakong, Ranto) . Batas Garantukng sakawokng dan Sango Sakawokng adalah Pentek (Tirtayasa). batas Garantukng Sakawokng dengan Sawak Hilir adalah kampung Puaje (jembatan dekat simpang Monterado).

Ada kelompok lain lagi yang berasal dari Lao pindah hingga Pakana (Karangan). ini nenek Moyang orang Salako yang menurut mereka yang berbahasa ba’ahe dan banana’. Selanjutnya terjadi penyebaran ke berbagai wilayah di kabupaten Pontianak dan Landak dengan berbagai macam isolek (dialek dalam bahasa sarumpun).

Mereka yang berdiam di Pakana sekarang umumnya beragama Islam tetapi masih menyebut diri mereka Dayak dan mereka masih mempraktekan budaya Dayak. Bahkan beberapa diantaranya ada yang memelihara babi walaupun sudah tidak memakannya lagi. Diyakini bahwa di pakana ini pada masa lalu ada semacam pusat pemerintahan dengan penduduk yang cukup ramai. Disini terjadi infiltrasi pengajaran agama islam, mereka yang menerima agama islam tetap bertahan tetapi yang tidak menerima memilih pergi migrasi ketempat-tempat lainnya. Selain itu di Pakana inilah diyakini pula sebagai puncak migrasi orang dayak Selako yang dikemudian hari suku ini berkembang kedalam berbagai dialeg bahasa. Sebagaimana diketahui bahwa dialeg orang selako meliputi badameo, ba-ahe, ba-jare, ba-nana’ ba-ngape.

Tentang perubahan dialeg bahasa ini, kemungkinan disebabkan oleh adaptasi terhadap lingkungan yang selalu berubah. Bennett (1976;247) melihat bahwa adaptasi merupakan perilaku responsive manusia terhadap perubahan-perubahan lingkungannya yang memungkinkan mereka dapat menata system-sistem tertentu bagi tindakan atau tingkah lakunya agar dapat menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang ada. Perilaku tersebut berkaitan dengan kebutuhan hidup, setelah sebelumnya melewati keadaan-keadaan tertentu dan kemudian membangun suatu strategi serta keputusan tertentu untuk menghadapi keadaan-keadaan selanjutnya. Dengan demikian, adaptasi merupakan suatu strategi yang digunakan oleh manusia dalam masa hidupnya untuk mengantisipasi perubahan lingkungan, baik fisik maupun sosial (Alland, Jr, 1975; Alland, Jr dan McCay, 1973; Moran, 1982, 1983).

Sebagai suatu proses mengatasi suatu perubahan, hal ini dapat berakhir dengan sesuatu yang diharapkan. Oleh karena itu, strategi adaptasi merupakan suatu system interaksi yang terus-menerus antara manusia serta antara manusia dengan ekosistemnya (bdk. Rimbo G, dkk., 1998: 76-77; Abdoellah, 1997:51-53).

D. Religi Suku Dayak Selako

Pembukaan Gawai Dayak di Landak (sumber: google.com)
Masyarakat Dayak Selako juga dikenal dengan masyarakat horticultural yang mana subsistensi masyarakatnya yang selalu berpencar-pencar adalah “bahuma” (berladang). Masyarakat ini dalam menjalani rutinitas kehidupannya tidak lepas dari praktek religius tradisionalnya – Religi Neolitikum – yang diwarisi oleh para leluhurnya, terutama dala interaksinya dengan alam lingkungan hidupnya (Hofes: 1983).

Religi – berasal dari bahasa Inggris relogion dengan akar kata bahasa latin yaitu Religare – berarti menyatukan (to bind together) tanpa memiliki pengertian Wahyu dan Kitab Suci (Johnstones : 1975) karena religi ini merupakan kebiasaan yang diwariskan oleh para leluhur secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat non- literate ini, selanjutnya disebut Religi Tradisional yang dalam bahasa Dayak Selako disebut adat. Hal ini dapat dilihat dari doa dalam setiap acara ritual yang disampaikan oleh penyangohotn (imam):

“Bukotnnyo unang i-mantabok i-marompokng adat aturan anyian, io inurunan ampet i ne’ Unte’ i kaimantotn, ne’ ancino i Tanyukng Bungo, ne’ Sarukng i sampuro, ne’ Rapek i sampero’, ne’ Sai i sabako’, ne’ ramotn i saa’u, ne’ ranyoh i gantekng siokng. Angkowolah angkenyo kami anak parucu’e make io dah tingor-kamaningor, dah pahiyak dah goehotn kami ihane.”
(terjeahan bebas: bukanlah adat dan aturan ini hasil rekayasa semata-mata, namun dia diturunkan oleh mereka (para leluhur) yang bernama Nek Unte’ yang tingggal di kaimantotn, Nek Bancino (leluhur dari etnis cina) di Tanyukng Bungo, Nek Sarukng di bukit sampuro, Nek Rapek di sungai Sapero’, Nek Sai di bukit Sabako’, Nek Ramotn di bukit saba’u Nek Ranyoh di Gantekng Siokng. Karena itu generasinya menggunakannya yang diwarisi dari generasi yang menjadi tuntutan kehidupan kami)

Dalam adat (religi tradisional) ini terkandung segala aturan, norma dan etika yang mengatur korelasi manusia dengan manusia, manusia dengan unsur-unsur yang non-manusia (nature and supranature) dalam sistem kehidupan ini. Religi tradisional ini merupakan suprastruktur dalam sistem sosiokultural masyarakat hortikultural Dayak Selako yang prakteknya selalu disesuaikan dengan lingkungan tempat tinggal mereka (Sanderson : 1981). Penyesuaian ini berimplikasi terhadap perbedaan kecil dalam bentuk-bentuk doa, kurban persembahan (bahasa Dayak Selako: buis bantotn) – misalnya posisi ayam kurban, jenis daun ritual – dan tempat-tempat mitis dari setiap desa. Sesuai dengan namanya, religi tradisional atau adat ini bersifat non proselytizing, artinya tidak mencari penganut di luar komunitas, hanya untuk kalangan sendiri (Spier : 1981).
referensi http://kristianusatok.blogspot.com/ (mengenal lebih jauh suku dayak selako oleh Kristianus Atok)

8 comments:

  1. Penerangan yang cukup teliti. Terima kasih kerana telah membuat rencana yang saya kira cukup lengkap. Semoga dengan adanya rencana ini akan menjadikan Kaum Salako menggetahui asal usul mereka. Tarimak kasih sakaie agik.

    Lundu, sarawak, Malaysia

    ReplyDelete
  2. Penerangan yang cukup teliti. Terima kasih kerana telah membuat rencana yang saya kira cukup lengkap. Semoga dengan adanya rencana ini akan menjadikan Kaum Salako menggetahui asal usul mereka. Tarimak kasih sakaie agik.

    Lundu, sarawak, Malaysia

    ReplyDelete
  3. Penerangan yang cukup teliti. Terima kasih kerana telah membuat rencana yang saya kira cukup lengkap. Semoga dengan adanya rencana ini akan menjadikan Kaum Salako menggetahui asal usul mereka. Tarimak kasih sakaie agik.

    Lundu, sarawak, Malaysia

    ReplyDelete
  4. Very informative.
    Tarimak kaseh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hi... thanks udah mampir...

      Tarima kasih uga ,,,,,, sabaya sabaya diri share info nang ada faedah

      Delete
  5. Saya orang selakau. Disambas. Yg mana org dayak masuk islam. Menjadi melayu.berbudaya melayu.
    Datang saja ke kampung kami di kec selakau. Telah menjadi melayu sejak lama. Namun asalnya dayak yg sama seperti didaerah pajintan,mayasopa, bagak dll..

    ReplyDelete

Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya
+Email : raditmananta@gmail.com
+Twitter : @raditmananta

Tata Tertib Berkomentar di blog misterpangalayo:

1. Gunakan Gaya Tulisan yang Biasa-biasa Saja
2. Tidak Melakukan Komentar yang Sama Disetiap Postingan
3. Berkomentar Mengandung Unsur Sara Tidak di Anjurkan

Powered by Blogger.