Mengenal 7 Suku Asli Kalimantan Yang Berbudaya Melayu

misterpangalayo.com - Suku-suku yang bertebaran di Pulau Kalimantan adalah suku-suku yang sangat kental akan budaya lisannya dan para keturunannya menjaga penuh kehati-hatian budaya lisan tersebut agar tidak punah ditelan zaman. Misalnya, menurut tradisi lisan suku Kutai mengatakan bahwa orang Kutai berasal dari daerah Campa, tentu cerita tersebut diperkuat dan ada dalam legenda atau mitos-mitos dalam komunitas suku Kutai.

Selain itu, menurut tradisi lisan dari Dayak Kenyah yang mempunyai cerita legenda bahwa nenek moyang mereka berasal dari Daratan Tiongkok bagian selatan. Sedangkan, orang-orang Dayak Tunjung, Benuaq, Sambas, Banjar, dan suku Kalimantan lainnya mempunyai versi ceritanya sendiri. Terutama, komunitas Dayak Tunjung hingga kini sangat percaya bahwa nenek moyang mereka adalah keturunan dewa (nayuq sengiang).





Ada berbagai ragam pendapat terkait asal muasal orang-orang bumiputera Pulau Kalimantan. Pendapat yang diterima umum menyatakan bahwa penduduk asli Kalimantan didasarkan pada teori migrasi penduduk ke Kalimantan. Bertolak dari pendapat itu adalah dipercayai bahawa nenek moyang orang Kalimantan berasal dari Dataran Tiongkok Selatan, sebagaimana yang dinyatakan oleh Mikhail Coomans (1987: 3).

Dewasa ini, suku asli Kalimantan terbagi dalam enam rumpun besar, yakni: Apokayan (Kenyah-Kayan-Bahau), Ot Danum-Ngaju, Iban, Murut, Klemantan dan Punan. Rumpun Punan merupakan pribumi yang paling tua mendiami pulau Kalimantan, sementara rumpun lainnya merupakan rumpun hasil asimilasi antara Rumpun Punan dan kelompok Proto Melayu (moyang yang berasal dari Yunnan).

Namun secara ilmiah, para linguis melihat 5 kelompok bahasa yang dituturkan di pulau Kalimantan dan masing-masing memiliki kerabat di luar pulau Kalimantan :

  • Barito Raya (33 bahasa, termasuk 11 bahasa dari kelompok bahasa Madagaskar, dan Sama-Bajau termasuk satu suku yang berdiri dengan nama sukunya sendiri yaitu Suku Paser.
  • Dayak Darat (13 bahasa)
  • Borneo Utara (99 bahasa), termasuk bahasa Yakan di Filipina serta satu suku yang berdiri dengan nama sukunya sendiri yaitu Suku Tidung.
  • Sulawesi Selatan" dituturkan 3 suku Dayak di pedalaman Kalbar: Dayak Taman, Dayak Embaloh, Dayak Kalis disebut rumpun Dayak Banuaka.
  • Melayik dituturkan: Dayak Meratus/Bukit (alias Banjar arkhais), Dayak Iban (dan Saq Senganan), Dayak Keninjal, Dayak Bamayoh (Malayic Dayak), Dayak Kendayan (Kanayatn). Beberapa suku asal Kalimantan beradat Melayu yang terkait dengan rumpun ini sebagai suku-suku yang berdiri sendiri yaitu Suku Banjar, Suku Kutai, Suku Berau, Suku Sambas, dan Suku Kedayan

Sebagian besar suku asli Kalimantan yang masuk dalam rumpun Malayik adalah berbudaya Melayu. Hal ini terjadi karena masuknya agama Islam dalam komunitas mereka. Sebagian besar suku Kalimantan di wilayah selatan dan timur kalimantan yang memeluk Islam keluar dari suku Dayak dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai atau orang Banjar dan Suku Kutai. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Batang Amandit, Batang Labuan Amas dan Batang Balangan.

Begitu juga yang terjadi di bagian barat Kalimantan, sebelum agama Islam masuk dalam komunitas suku Sambas, kepercayaannya adalah Kaharingan dan Hindu Majapahit. Namun berkembangnya agama Islam di pesisir barat pulau Kalimantan menyebabkan agama Islam dengan cepat menyebar di kalangan suku Sambas. Perubahan Suku Sambas secara drastis setelah masuk Islam, hampir menghapus jejak asal muasalnya. Kebudayaan Melayu yang dianggap lebih "beradab", membantu menghilangkan budaya lama pada Suku Sambas dengan cepat.

Sejak awal di Kalimantan memang tidak ada Melayu, yang ada adalah Dayak-Islam. Adanya Melayu dimaksudkan untuk membedakan keyakinan agama saja antara Dayak yang Islam dan Dayak yang Kristen. Dayak Islam lebih cenderung menyebut dirinya Melayu sementara bagi orang Dayak mereka tetap disebut Dayak dengan sebutan bukan Melayu tetapi " urang laut", "senganan", "sinan" dan sebutan Dayak yang telah mengubah agama dan budayanya menjadi Islam. Orang Dayak tidak mengenal Melayu kepada mereka yang menyebut dirinya Melayu tetapi "Senganan", "Laut", "Sinan" dsb.

Mengapa demikian karena orang Dayak mengetahui asal usul nonok moyang mereka sejak awal dan ditutur tinularkan dari mulut ke mulut sehingga sebutan laut, Sinan, Senganan lebih tepat untuk menyebuut orang-orang Dayak yang telah menjadi Islam ketimbang Melayu. Hal itu diperkuat oleh teori bahasa yang menyatakan bahwa di mana rumpun bahasa daerah yang paling banyak maka disitulah asal usul bahasa menyebar.

Hal itu diperkuat lagi bahwa menurut James T Collins kemungkinan besar akar bahasa Melayu justeru berada dan berasal dari Kalimantan Barat. Hal itu didukung dari banyaknya sebaran bahasa Dayak dan Bahasa Senganan (Melayu Kalimantan) di wilayah Kalimantan Barat ketimbang wilayah Kalimantan lainnya.


Berikut adalah 7 Suku Asli Kalimantan Yang Berbudaya Melayu:


1. Suku Banjar

Suku Banjar adalah suku bangsa yang menempati wilayah Kalimantan Selatan, serta sebagian Kalimantan Tengah dan sebagian Kalimantan Timur. Berdasarkan sensus penduduk 2010 orang Banjar berjumlah 4,1 juta jiwa. Sekitar 2,7 juta orang Banjar tinggal di Kalimantan Selatan dan 1 juta orang Banjar tinggal di wilayah Kalimantan lainnya serta 500 ribu orang Banjar lainnya tinggal di luar Kalimantan.

Sumber Gambar : @fuenteq

Suku bangsa Banjar terbentuk dari suku-suku Bukit, Maanyan, Lawangan dan Ngaju yang dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu yang berkembang sejak zaman Sriwijaya dan kebudayaan Jawa pada zaman Majapahit, dipersatukan oleh kerajaan yang beragama Buddha, Hindu dan terakhir Islam, dari kerajaan Banjar, sehingga menumbuhkan suku bangsa Banjar yang berbahasa Banjar.

Mitologi suku Dayak Meratus (Suku Bukit) menyatakan bahwa Suku Banjar (terutama Banjar Pahuluan) dan Suku Bukit merupakan keturunan dari dua kakak beradik yaitu Si Ayuh/Datung Ayuh/Dayuhan/Sandayuhan yang menurunkan suku Bukit dan Bambang Siwara/Bambang Basiwara yang menurunkan suku Banjar.


2. Suku Kutai

Suku Kutai atau Urang Kutai adalah suku asli yang mendiami wilayah Kalimantan Timur yang mayoritas saat ini beragama Islam dan hidup di tepi sungai. Hubungan Kekerabatan Suku Kutai dengan Suku Dayak diceritakan juga dalam tradisi lisan Suku Dayak dengan berbagai versi di beberapa subsuku rumpun Ot Danum (karena masing - masing subsuku memiliki sejarah tersendiri).

Sumbe Gambar : @Kamera_Budaya

Suku Kutai merupakan bagian dari rumpun Suku Dayak, khususnya dayak rumpun ot danum ( tradisi lisan orangtua beberapa Suku Kutai yang mengatakan Suku Dayak Lawangan yang kemudian berdiam di Kalimantan Timur melahirkan Suku Dayak Tunjung dan Suku Dayak Benuaq, kemudian dengan masuknya budaya melayu dan muslim melahirkan terbentuknya masyarakat Suku Kutai yang berbeda budaya dengan Suku Dayak).

Adat-istiadat lama Suku Kutai banyak kesamaan dengan adat-istiadat Suku Dayak rumpun ot danum (khususnya Tunjung-Benuaq) misalnya; Erau (upacara adat yang paling meriah), belian (upacara tarian penyembuhan penyakit), memang, dan mantra-mantra serta ilmu gaib seperti; parang maya, panah terong, polong, racun gangsa, perakut, peloros, dan lain-lain. Di mana adat-adat tersebut dimiliki oleh Suku Kutai dan Suku Dayak. Bahkan hingga saat ini masih ada Suku Kutai di Desa Kedang Ipil, Kutai Kartanegara yang menganut kepercayaan kaharingan sama halnya dengan Suku Dayak.


3. Suku Berau

Suku Berau atau Melayu Berau (Berau Benua) adalah suku pesisir di kabupaten Berau, bagian utara Kalimantan Timur. Kebudayaan Berau berawal sejak berdirinya Kesultanan Berau, seperti kerajaan Islam lainnya di Kalimantan yang termasuk golongan Melayu. Kepercayaan penduduk Berau ini dari dulu hingga sekarang yaitu, agama Islam. Karena pada jaman dahulu kala terdapat Kerajaan Berau dimana pada saat itu Kerajaan tersebut menganut ajaran dan kepercayaan agama Islam maka dari itu sampai sekarang kepercayaan penduduk Berau ini adalah agama Islam.


Sumber Gambar : @defkeratonsambaliung

Bahasa Berau atau Dialek Melayu Berau (bve) adalah suatu bahasa Austronesia yang dituturkan suku Berau di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Bahasa Berau merupakan salah satu dialek Melayu Lokal sehingga dapat pula disebut Bahasa Melayu Berau.


4. Suku Sambas

Suku Sambas atau Melayu Sambas adalah suku asli Pulau Kalimantan bagian barat yang menempati sebagian besar wilayah Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang, Kota Singkawang, dan Kabupaten Mempawah (Kalimantan Barat), sebagian kecil di Provinsi Kepulauan Riau dan Sarawak (Malaysia). Kebudayaan Melayu Sambas berawal sejak berdirinya Kesultanan Sambas, seperti Kerajaan Islam lainnya di Kalimantan yang termasuk golongan Melayu.


Sumber Gambar : @eyasongketsambas

Suku Sambas mempunyai bahasa Sambas yang merupakan turunan langsung dari bahasa Old Kendayan dan termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia. Bahasa ini berkembang sejak zaman Panembahan Sambas (Pra Islam) dan Kesultanan Sambas. Bahasa Sambas berbeda dengan bahasa Melayu di tanah Sumatera maupun Malaysia dan akar dari kosakata bahasa Sambas berasal dari bahasa Old Kendayan atau rumpun Klemantan, sehingga 80% kosakata-kosakata bahasa ini sangat mirip dengan Bahasa Dayak Kanayatn dan Bahasa Melayu Sarawak, serta sisanya menyerap dari Bahasa Melayu Muda, Bahasa Iban, dan sedikit menyerap kosakata bahasa Jawa.

Adat-istiadat lama Suku Melayu Sambas banyak kesamaan dengan adat-istiadat Suku Dayak rumpun Melayik misalnya; tumpang 1000, tepung tawar, dan lainnya yang bernuansa kepercayaan nenek moyang suku Sambas pra-Islam yaitu Sambas Kaharingan.


5. Suku Tidung

Suku Tidung merupakan suku yang tanah asalnya berada di bagian utara Pulau Kalimantan (Kalimantan Utara). Suku ini juga merupakan anak negeri di Sabah, jadi merupakan suku bangsa yang terdapat di Indonesia maupun Malaysia (negeri Sabah). Konon, nenek moyang suku Tidung berasal dari orang-orang yang tinggal di dataran tinggi Gunung Kinabalu dan ada juga yang mengatakan bahwa asal-usul orang Tidung adalah dari Sulu – Filipina.



Sumber Gambar : @viyanmuhammad111

Bahasa Tidung dialek Tarakan merupakan bahasa Tidung yang pertengahan karena dipahami oleh semua warga suku Tidung. Beberapa kata bahasa Tidung masih memiliki kesamaan dengan bahasa Kalimantan lainnya. Kemungkinan suku Tidung masih berkerabat dengan suku Dayak rumpun Murut (suku-suku Dayak yang ada di Sabah)


6. Suku Kedayan

Suku Kedayan/Kadayan adalah salah satu dari 7 suku bangsa asli Brunei. Diantaranya ke-7 suku tersebut antara lain suku Kadayan, suku Brunei (atau Melayu Brunei) dan lain-lain. Suku Kadayan sering juga disebut Melayu Kedayan karena secara liguistik termasuk dalam rumpun bahasa Melayu Lokal. Sebagian suku Kedayan bermigrasi ke Sarawak dan Sabah. Bahasa Kedayan termasuk dianggap sebagai salah satu dialek dalam Bahasa Melayu Brunei. Dalam pengertian lain Kedayan juga bermaksud Orang Pendalaman atau Orang Darat

Nama lama kepada suku Dusun di Brunei juga di sebut Kedayan atau Sang Kedayan. Sang Kedayan merupakan kata yang digunakan untuk membedakan 'Orang Laud' ( pesisir ) dan Darat ( Kedayan ), dan diperkirakan Kadayan Islam/Kadayan Melayu ini berkerabat dengan Dayak Kanayatn/Kendayan Dajak dari Kalimantan Barat yang menyebar hingga ke pesisir utara Kalimantan sampai di Sipitang, Sabah. Sementara dari arah berlawanan suku Banjar dari Kalimantan Selatan menyebar hingga ke utara Kalimantan sampai ke Keningau, yaitu Kampung Banjar Keningau, yang berada di pedalaman Sabah di tengah-tengah suku Dusun dan Murut.


7. Suku Paser

Suku Paser adalah suku bangsa yang tanah asalnya berada di tenggara Kalimantan Timur yaitu di Kabupaten Paser, Kabupaten Penajam Paser Utara, dan Kota Balikpapan. Suku Paser sebagian besar beragama Islam maupun beragama Kristen dan telah mendirikan kerajaan Islam yaitu Kesultanan Pasir (Kerajaan Sadurangas) jadi termasuk ke dalam suku yang berbudaya Melayu (budaya kesultanan/lingkungan hukum adat Melayu).

Suku Paser atau Dayak Paser meskipun berbudaya Melayu, tidak seperti suku-suku dayak lainnya yang mengaku telah menjadi Melayu setelah memeluk Islam, tetapi orang Dayak Paser bangga mengaku sebagai bagian dari Dayak, atau sebagai orang Dayak. Bahasa yang diucapkan oleh suku Dayak Paser, sangat akrab dengan bahasa Dayak Lawangan, sehingga bahasa Dayak Paser kadang dianggap sebagai dialek bahasa Dayak Lawangan.

Sebagian besar suku Dayak Paser saat ini bermukim di wilayah pedalaman di kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut kabupaten Paser provinsi Kalimantan Timur. Sebelum bermukim di tempat mereka sekarang ini, dahulunya mereka berasal dari daerah Balikpapan dan Penajam. Kemungkinan karena banyaknya arus pendatang baru dari luar yang memasuki wilayah mereka dahulu, sehingga memaksa mereka mencari tempat yang lebih tenang dan damai yaitu di kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut, tempat mereka sekarang ini.


Sumber Referensi ::
http://www.ethnologue.com/subgroups/malayic

http://press.anu.edu.au//austronesians/austronesians/mobile_devices/ch04s03.html

Schulze, Fritz; Holger Warnk (2006). Insular Southeast Asia: linguistic and cultural studies in honour of Bernd Nothofer. Otto Harrassowitz Verlag. hlm. 47. ISBN 3447054778. ISBN 978-3-447-05477-5

Haris, Syamsuddin (2004). Desentralisasi dan otonomi daerah: Naskah akademik dan RUU usulan LIPI. Yayasan Obor Indonesia. hlm. 188. ISBN 979-98014-1-9.ISBN 978-979-98014-1-8

https://www.ethnologue.com/map/ID_k__

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sambas

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak_Paser

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Banjar

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Berau

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Tidung

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Kutai

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Kendayan




1 comment:

Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya
+Email : raditmananta@gmail.com
+Twitter : @raditmananta

Tata Tertib Berkomentar di blog misterpangalayo:

1. Gunakan Gaya Tulisan yang Biasa-biasa Saja
2. Tidak Melakukan Komentar yang Sama Disetiap Postingan
3. Berkomentar Mengandung Unsur Sara Tidak di Anjurkan

Powered by Blogger.