Vihara Bodhissatva Karaniya Metta: Vihara Tertua di Kota Pontianak

misterpangalayo.com - Wihara adalah rumah ibadah agama Buddha, bisa juga dinamakan kuil. Klenteng adalah rumah ibadah penganut taoisme, maupun konfuciusisme. Tetapi di Indonesia, karena orang yang ke wihara/kuil/klenteng umumnya adalah etnis Tionghoa, maka menjadi agak sulit untuk dibedakan, karena umumnya sudah terjadi sinkritisme antara Buddhisme, Taoisme, dan Konfuciusisme. 


Salah satu contohnya adalah Vihara Bodhissatva Karaniya Metta yang terletak di Jalan Sultan Muhammad Kampung Darat Sekip, Kelurahan Darat Sekip, Kecamatan Pontianak Kota, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. Letak klenteng persis di ujung pertemuan ruas jalan Sultan Muhammad dan jalan Gusti Ngurah Rai, Pontianak, tak jauh dari komplek pertokoan Kapuas Indah.

Menurut beberapa sumber, Vihara Bodhissatva Karaniya Metta di bangun pada zaman Dinasti Kang Hie ( 1645 - 1772 ).Vihara ini mulai dibangun pada tahun 1829 dan di rehab permanen pada 1906. Bangunan bersejarah ini merupakan gabungan dari 3 Klenteng dua Klenteng sebelumnya terletak di Parit Pekong dan Sheng Hie.


Pada tahun 1979, seorang bangsa Tiongkok bermarga Kim migrasi ke Pontianak dengan membawa Patung Macou atau yang biasa dikenal dengan Patung Dewi Samudera bersamaan dengan didirikannya Kelenteng Macau atau Kelenteng Dewi Samudera yang berada di Jalan Thang Seng Hie atau yang dikenal dengan sebutan Jalan Kapuas Besar ( yang dimana sekarang lebih dikenal dengan Jalan Sutan Muhammad ).

Keunikan dari bangunan Klenteng Macau adalah tiang dan rangka bangunannya terbuat dari kayu ulin yang didominasi warna merah dan kuning emas. Di tiga pintu utama terlukis gambar Dewa - dewa Kong Hu Chu. Dan dinding dan altar yang terdapat patung dan lukisan yang bermakna tentang filosofi ajaran kehidupan.

Ada beberapa bagian dalam vihara yang memiliki makna serta sejarahnya tersendiri. seperti Pot sembahyang dewa Langit Bumi, yang konon bertarihk tahun 1673 M. Yakni pada masa di Mancuria bertahta raja Khan hi (1662-1722). Ada juga  Lonceng  tua Pek kong, yang konon dibawa pada  tahun 1789, pada masa raja Khen Long (1736-1796).

Dalam perkembangan sejarahnya kelenteng ini sudah mengalami beberapa kali pemugaran sampai seperti keadaan yang seperti sekarang ini. Kelenteng ini sering ramai dikunjungi setiap tanggal 1 dan 15 menurut penanggalan imlek. Mereka yang datang tidak hanya dari seputar Pontianak namun mereka juga datang dari luar kota.

Aktivitas di vihara tidak pernah sepi karena setiap beberapa menit terdengar bunyi tambur ditabuh untuk memberi tanda kepada “penghuni surga” bahwa umat-Nya telah datang untuk berdoa. Harum dupa hio melambung ke langit. Sementara umat yang datang untuk bersembahyang mengangkat hio-nya untuk berdoa kepada para dewa. Mayoritas peziarah tidak hanya berdoa kepada satu dewa. Yang menarik, tidak ada pemisahan antara dua kepercayaan itu, dimana semua dewa berada dalam satu ruangan yang hanya dipisahkan sekat yang nyaris tanpa batasan berarti.


Bersebelahan dengan Vihara Bodhisatva Karaniya Metta, atau sekitar 50 meter dari area terminal, terdapat bangunan komplek pertokoan “Kapuas Indah”. Konon, pada tahun 90-an pusat pertokoan ini sangat terkenal dan menjadi pilihan favorit untuk tempat berbelanja. Kala itu, “Kapuas Indah” ibarat megamall-nya orang Pontianak dan sekitar.
Vihara sebagai pusat keagamaan, yakni bagaimana berbakti dalam puja bakti terhadap dharma. Kedua, vihara sebagai pusat pendidikan, yakni menjadikan vihara atau klenteng sebagai sarana pendidikan. - See more at: http://www.jurnalasia.com/2014/08/30/dasikin-vihara-miliki-4-fungsi-utama-2/#sthash.aRTchR7r.dpu
Vihara sebagai pusat keagamaan, yakni bagaimana berbakti dalam puja bakti terhadap dharma. Kedua, vihara sebagai pusat pendidikan, yakni menjadikan vihara atau klenteng sebagai sarana pendidikan. - See more at: http://www.jurnalasia.com/2014/08/30/dasikin-vihara-miliki-4-fungsi-utama-2/#sthash.aRTchR7r.dpuf
Vihara sebagai pusat keagamaan, yakni bagaimana berbakti dalam puja bakti terhadap dharma. Kedua, vihara sebagai pusat pendidikan, yakni menjadikan vihara atau klenteng sebagai sarana pendidikan. - See more at: http://www.jurnalasia.com/2014/08/30/dasikin-vihara-miliki-4-fungsi-utama-2/#sthash.aRTchR7r.dpuf

Tidak ada komentar:

Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya
+Email : raditmananta@gmail.com
+Twitter : @raditmananta

Tata Tertib Berkomentar di blog misterpangalayo:

1. Gunakan Gaya Tulisan yang Biasa-biasa Saja
2. Tidak Melakukan Komentar yang Sama Disetiap Postingan
3. Berkomentar Mengandung Unsur Sara Tidak di Anjurkan

Diberdayakan oleh Blogger.